Pagi itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Dari balik kepulan uap kopi, Edwar Canto mengenang perjalanan hidup yang membawanya dari pedalaman Gayo hingga ruang-ruang perencanaan pertanian nasional. Di usianya yang mendekati masa pensiun, ia tidak sibuk menghitung sisa masa kerja. Ia justru menatap masa depan dengan semangat yang sama seperti ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman puluhan tahun lalu: belajar, menulis, berkebun, dan terus memberi manfaat bagi banyak orang.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Pagi itu, Senin, 8 Juni 2026. Aroma kopi roasting menyeruak dari sebuah kedai sederhana milik Ibu Abdul Karim di sudut Kota Blangkejeren. Di atas meja kayu, secangkir kopi panas dan sepiring lontong menjadi teman perbincangan yang mengalir tanpa sekat.
Di hadapan saya duduk seorang pria berwajah teduh. Pembawaannya santai, tutur katanya lembut, dan jauh dari kesan birokrat yang kaku. Dialah Edwar Canto, sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pertanian, penelitian, dan birokrasi pemerintahan.
Di sela-sela percakapan pagi itu, lelaki yang akrab disapa Pak Edo tersebut tidak banyak berbicara tentang jabatan. Ia justru lebih sering mengenang perjalanan hidupnya – tentang perjuangan, keluarga, pendidikan, hingga cita-cita yang masih ingin diwujudkan setelah masa pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara berakhir pada 2027 mendatang.
“Kalau Allah mengizinkan, setelah purna tugas saya ingin tetap mengabdi. Menulis jurnal, berkebun, menjadi narasumber di bidang pertanian, dan mungkin bergabung dengan salah satu partai politik nasional,” ujarnya sambil tersenyum.
Satu cita-cita lain yang tak kalah penting baginya adalah menunaikan ibadah haji bersama sang istri pada 2027, sebagai ikhtiar menyempurnakan rukun Islam kelima.
Jejak Keluarga Pejuang Pendidikan
Edwar Canto lahir di Blangkejeren, 22 Juni 1969. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga yang kuat dalam tradisi pendidikan dan pengabdian masyarakat.
Dari garis ayah, ia merupakan cucu Abdul Munaf atau Guru Angong, seorang tokoh pendidikan yang telah mengajar di pedalaman Pining sejak era Hindia Belanda sekitar tahun 1928. Di masa ketika akses pendidikan masih sangat terbatas, Guru Angong dikenal sebagai sosok yang membuka jalan bagi lahirnya generasi terdidik di wilayah terpencil Gayo.
Julukan “Guru Angong” melekat karena posturnya yang tinggi besar, berkacamata tebal, dan selalu membawa tongkat rotan khas Gayo. Bersama tokoh legendaris Datu Pining, ia berjuang membangun pendidikan di kawasan yang kala itu nyaris terisolasi dari pusat pemerintahan.
Sementara dari garis ibu, Edwar mewarisi semangat keagamaan dan kepemimpinan dari Buya Djamaan Fahmi, ulama kharismatik yang dikenal sebagai salah satu pelopor Muhammadiyah di Gayo Lues pada era 1950-an. Buya Djamaan juga pernah menjadi anggota DPR Kabupaten Aceh Tenggara yang mewakili wilayah Kewedanaan Gayo Lues.
“Dari kedua kakek itulah saya belajar bahwa ilmu harus memberi manfaat kepada masyarakat,” kata Edwar.
Dari Daerah Konflik ke Dunia Penelitian
Perjalanan hidup Edwar tidak selalu berjalan mulus.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada 1994, peluang kerja bagi putra daerah Gayo Lues saat itu tidaklah mudah. Kabupaten Gayo Lues bahkan masih menjadi bagian dari Aceh Tenggara.
Berbekal keberanian dan tekad untuk mandiri, ia menerima pekerjaan di perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Aceh Timur dan Tamiang. Masa itu merupakan periode konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia.
Dentuman senjata dan suasana ketidakpastian menjadi bagian dari kesehariannya di lapangan.
Namun pengalaman tersebut justru menempa mentalnya.
Dua tahun kemudian, ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengikuti seleksi pegawai negeri di Departemen Pertanian. Dari sekitar 3.000 peserta, Edwar termasuk yang dinyatakan lulus dan ditempatkan sebagai peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan.
Kariernya sebagai peneliti berkembang pesat.
Ia terlibat dalam berbagai program pengembangan padi, jagung, kedelai, pemupukan, agroekologi, hingga konservasi pertanian di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Pada saat yang sama, ia terus meningkatkan kapasitas akademiknya dengan menempuh pendidikan magister di Universitas Padjadjaran Bandung dan lulus pada 2003.
Baginya, penelitian bukan sekadar pekerjaan.
Penelitian adalah cara memahami persoalan petani dan mencari solusi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
Kembali ke Tanah Kelahiran
Tahun 2007 menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupnya.
Setelah lebih dari satu dekade berkarier di Sumatera Selatan, Edwar memilih kembali ke Gayo Lues.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Ia ingin membangun daerah kelahirannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh selama bertahun-tahun.
Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai dari Kepala Seksi Penyuluhan Pertanian, Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Kepala Bidang Pertanian, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, hingga Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues.
Di kalangan petani dan penyuluh, Edwar dikenal sebagai birokrat yang lebih sering berada di lapangan dibandingkan di balik meja kerja.
Ia aktif mendorong pengembangan komoditas unggulan, memperkuat kapasitas penyuluh, hingga merancang berbagai konsep pertanian berbasis zonasi dan agroekologi lahan.
Salah satu gagasan yang banyak dikenang adalah upayanya mendorong lahirnya Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) untuk pengelolaan alat dan mesin pertanian di Gayo Lues, agar pelayanan kepada petani menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Menulis sebagai Bentuk Pengabdian
Di luar aktivitas birokrasi, Edwar memiliki kecintaan besar terhadap dunia tulis-menulis.
Namanya tercatat sebagai penulis berbagai jurnal ilmiah pertanian yang diterbitkan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penelitian nasional. Ia juga aktif menulis opini di media massa, menyusun naskah siaran radio, hingga menjadi konseptor berbagai pidato dan dokumen pembangunan pertanian.
Bagi Edwar, menulis adalah cara mengabadikan gagasan.
“Pengalaman di lapangan akan hilang jika tidak ditulis. Karena itu saya ingin tetap menulis setelah pensiun nanti,” ujarnya.
Keinginan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia tidak melihat masa pensiun sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, purna tugas adalah babak baru untuk terus berkarya tanpa batas jabatan formal.
Menjelang Senja Pengabdian
Kini, ketika masa purna tugas mulai terlihat di depan mata, Edwar Canto tidak sedang menghitung hari untuk berhenti bekerja.
Ia justru sedang menyiapkan ruang pengabdian baru.
Fokus pada keluarga, mendampingi anak-anak yang mulai beranjak dewasa, berkebun, menulis, berbagi pengalaman kepada generasi muda, hingga memperkuat kontribusi di bidang pertanian menjadi agenda yang ingin dijalaninya.
Motto hidupnya sederhana: disiplin, ketangguhan, dan kompetensi.
Tiga kata itu pula yang tampaknya menjelaskan perjalanan panjang seorang anak kampung dari Blangkejeren yang pernah menembus dunia penelitian nasional, kembali membangun daerah kelahirannya, lalu bersiap melanjutkan pengabdian di luar birokrasi.
Di kedai kopi pagi itu, Edwar Canto tidak tampak seperti seseorang yang akan memasuki masa pensiun.
Ia justru terlihat seperti seorang petani yang baru selesai menanam benih—tenang, sabar, dan percaya bahwa hasil terbaik akan tumbuh pada waktunya.
Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini merupakan feature inspiratif yang disusun berdasarkan hasil perbincangan, penuturan pribadi, serta dokumentasi riwayat hidup narasumber. Kisah ini tidak dimaksudkan untuk mengagungkan seseorang, melainkan merekam jejak pengabdian, ketekunan, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Setiap perjalanan hidup memiliki cerita dan pelajarannya sendiri; semoga yang baik dapat diteladani, dan yang kurang menjadi bahan refleksi bersama.


































