Dewan Diam, Rakyat Jangan Banyak Tanya

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Senin, 28 Juli 2025 - 18:47 WIB

50675 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi jenaka sebagai pemanis pengganti gula | doc | inset |

Gambar ilustrasi jenaka sebagai pemanis pengganti gula | doc | inset |

“Di balik kursi empuk bersandar janji, Gedung sunyi, wakil tak bersuara lagi. Jangkrik pun malu, kalah nyaringnya, Sementara rakyat resah di ujung desa.

Mikrofon kosong, rapat tanpa gema, Tanya pun dilarang, dianggap drama. Tapi suara rakyat tak bisa dibungkam, Meski tanpa panggung, terus menggemam.

Diam tak selamanya jadi bijak, Kadang justru tanda langkah yang kerdil dan gelap. Maka biarlah rakyat bersajak dan bernyanyi, Tentang janji yang hilang… dan hak yang dicuri”

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Di Negeri yang tak tercatat di Google, jika Anda ingin mencari suara wakil rakyat, mungkin lebih baik mendengar suara jangkrik di malam hari-setidaknya masih bersuara.

Dari arah gedung dewan? Sunyi. Hening. Seolah semuanya tengah mengikuti retret politik tanpa batas waktu. Fungsi pengawasan? Entah, mungkin sedang ambil cuti bersama.

Padahal, persoalan di daerah ini bukan sedikit. Mulai dari kegelisahan petani kopi didaerah sebrang, dinamika moral masyarakat, hingga pembatalan sejumlah tender bernilai miliaran. Masyarakat menanti sikap, bukan senyap.

Namun, gedung dewan terasa seperti perpustakaan tua: banyak kursi, sedikit suara.

Yang membuat geleng-geleng, sebagian anggota Dewan berasal dari kalangan muda dan berpendidikan tinggi. Harapan publik begitu besar, mereka diharapkan menjadi motor perubahan. Tapi sayangnya, sejauh ini lebih piawai tampil di media sosial ketimbang bersuara dalam forum resmi. Alih-alih jadi lokomotif perubahan, justru cenderung menjadi penonton dalam film yang mereka bintangi sendiri.

Soal oposisi? Barang langka. Padahal, fungsi oposisi penting untuk menjadi rem dalam sistem demokrasi. Sayangnya, yang kalah pemilu sering justru ikut nimbrung dalam koalisi yang terlalu harmonis.

Tak ada gesekan, tak ada suara keras-karena berbeda pandangan kadang bisa berarti kehilangan jatah. Maka terciptalah suasana damai, meski dalam diam.

Tentu tidak adil jika semua kesalahan ditimpakan ke legislatif. Harus diakui, sebagian dari mereka duduk di kursi itu karena sistem demokrasi kita yang masih penuh catatan. Dugaan politik transaksional masih menjadi cerita yang dibisikkan di banyak warung kopi. Jika benar praktik itu terjadi, maka jangan heran jika yang terpilih merasa tak perlu benar-benar mewakili rakyat. Karena urusan “transaksi”, konon, telah lunas sejak masa kampanye.

Hari ini, Negeri yang tak tercatat di google seolah memiliki Dewan versi “Koalisi Membisu Nasional” lengkap dengan fitur anti-kritik dan mode silent permanen. Jadi kalau Anda bertanya-tanya kenapa tak terdengar suara dari sana, mungkin jawabannya sederhana, karena diam dianggap lebih aman daripada berbicara.

Lalu siapa yang bersuara untuk rakyat? Mungkin tinggal masyarakat sipil, pemuda, media, dan suara-suara dari warung kopi. Itu pun kalau belum dibungkam. Kalau sudah-entahlah. Karena jika wakil rakyat memilih diam, maka rakyatlah yang mesti belajar bersuara, sekeras-kerasnya, meski tanpa mikrofon.


CATATAN REDAKSI: Tulisan ini disusun dalam gaya satir. Tidak ditujukan untuk menyerang pribadi atau memprovokasi kelompok manapun. Jika terasa pedas, anggap saja seperti sambal: membuat panas, tapi membuka mata. Kritik ini dimaksudkan untuk mengajak berpikir, bukan memancing baper. Dan jika Anda merasa tersindir, bisa jadi Anda sedang duduk di kursi yang kami maksud – secara metaforis, tentu saja.

Redaksi insetgalusnews.com berkomitmen pada prinsip jurnalistik: faktual, kritis, tajam, namun tetap santun. Dan yang pasti-bukan bagian dari pasar jual beli.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan