Anita Mandasari: Ketabahan dari Pinggiran Negeri, Bukti Bahwa Usaha Tak Pernah Sia

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 5 Agustus 2025 - 14:12 WIB

501,050 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anita Mandasari pegawai PPPK dari Kecamatan Pining |doc|inset|

Anita Mandasari pegawai PPPK dari Kecamatan Pining |doc|inset|

Dari sunyi Pining yang jauh di sepi, Anita melangkah tanpa janji pasti.

Berbalut doa, berpeluh asa, Ia percaya usaha tak pernah sia-sia.

Hujan ragu, badai rintangan. Tak goyahkan langkah di jalan impian.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini SK di tangan, senyum pun merekah. Ketabahan berbuah, harapan pun indah.

Untukmu, ibu, ayah, dan belahan hati. Terima kasih atas cinta yang tak henti.

Dari pinggiran negeri ia bersaksi, Bermimpi dan gigih, tak pernah rugi

PINING | insetgalusnews.com | Di ujung selatan Kabupaten Gayo Lues, tepatnya di Kecamatan Pining, tinggal seorang perempuan yang menyimpan kisah luar biasa tentang ketabahan dan kegigihan. Namanya Anita Mandasari Joga.

Setelah lebih dari satu dekade mengabdi sebagai tenaga honorer di tempat kelahirannya, tahun 2025 menjadi titik terang dalam perjuangannya. Ia dinyatakan lulus seleksi dan diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Namun keberhasilan itu bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Di balik selembar Surat Keputusan tersebut, tersimpan perjalanan panjang seorang anak yatim yang memikul beban keluarga sejak usia muda, menembus keterbatasan wilayah, dan bertahan di tengah ketidakpastian.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ini rezeki anak yatim. Orang tua saya sudah tiada sejak 10 tahun lalu. Sebagai anak sulung, saya harus menjadi tulang punggung keluarga. Rasanya tidak mudah, tapi saya tidak boleh menyerah,” tutur Anita dengan suara lirih, kepada insetgalusnews, Selasa (5/8/2025).

Tantangan yang dihadapi Anita bukan hanya soal ekonomi atau tanggung jawab keluarga, tapi juga soal akses yang jauh dari pusat kabupaten, sinyal telepon yang kerap terputus, hingga informasi yang sering terlambat tiba.

“Kadang saya ketinggalan informasi penting, tidak bisa ikut rapat atau pelatihan karena kendala akses dan transportasi. Tapi saya tetap berjuang, meski pelan-pelan,” ungkapnya.

Yang membuat kisah Anita begitu menyentuh adalah keteguhannya untuk tetap melangkah meski jalannya begitu terjal. Ia tidak memiliki kemudahan yang dimiliki banyak orang lain, namun ia punya satu hal yang kuat: tekad untuk tidak menyerah.

Bagi banyak tenaga honorer lain, terutama yang berada di pelosok, sosok Anita menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk sukses. Bahwa perjuangan yang dilakukan dengan niat tulus, akan menemukan jalannya.

“Saya percaya, jika kita sabar dan tetap berusaha, Tuhan pasti membuka jalan. Sekecil apa pun, usaha itu tidak akan sia-sia,” ucapnya yakin.

Di tengah kebahagiaan itu, Anita tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang-orang yang selama ini hadir dan memberi kekuatan di saat-saat sulit.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung saya. Terutama kepada keluarga, dan suami saya tercinta yang tidak pernah lelah memberi semangat, bahkan ketika saya hampir menyerah,” ucapnya penuh haru.

Dukungan suaminya, kata Anita, adalah salah satu alasan utama ia mampu bertahan menghadapi berbagai cobaan selama bertahun-tahun. Ketika fisik lelah dan pikiran mulai goyah, semangat dari orang terdekat itulah yang membuatnya terus berdiri.

Kisah Anita Marindasari bukan sekadar tentang kelulusan. Ini adalah pesan moral tentang arti sebuah ketabahan, bahwa dari tempat yang jauh pun, harapan bisa tumbuh, asal ada keyakinan, ketulusan, dan kemauan untuk terus melangkah, walau pelan.

Bagi sebagian orang P3K itu tidak berarti apa apa, tapi bagi dirinya itu adalah buah dari hasil kerja keras yang bisa dia capai seumur hidupnya.

Redaksi | insetgalusnews |

Berita Terkait

Inspirator yang Membumi: Jejak Hidup Edwar Canto Menjelang Purna Tugas
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H
Dia bernama Ibnu Hasim
Jejak Pengabdian “Bang Bram Aceh” Di Tanoh Gayo
Mengenal Lebih Dekat Muhtarudin, Kepala SMA Negeri 1 Putri Betung yang Visioner dan Membumi

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan