Tan Malaka, Republik yang Terlupakan

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Jumat, 12 September 2025 - 20:14 WIB

50950 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gambar ini hanya sebagai pemanis|redaksi

Ilustrasi gambar ini hanya sebagai pemanis|redaksi

Tan Malaka adalah nama besar yang sering ditulis kecil dalam sejarah. Dua dekade sebelum proklamasi, ia sudah merancang republik, tetapi setelah Indonesia merdeka, ia justru dipenjara, disisihkan, dan dilupakan.

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Sejarah bangsa tidak pernah sederhana. Selalu ada nama-nama yang terang benderang, dipuji dan dikenang, namun juga ada tokoh yang dikaburkan oleh zaman. Tan Malaka adalah salah satunya. Sosok yang pernah disebut Bung Karno sebagai “ahli revolusi” itu, justru terlupakan dalam arus besar sejarah kemerdekaan Indonesia.

Dua puluh tahun sebelum proklamasi, Tan sudah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Ia merumuskan cita-cita Republik jauh sebelum pledoi Hatta (Indonesia Vrij) dan tulisan Bung Karno (Menuju Indonesia Merdeka). Dari tanah pelarian, ia menyalakan api republik, yang kelak menjadi inspirasi bagi para tokoh pergerakan nasional.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun sejarah mencatat, bukan penghargaan yang ia terima, melainkan penangkapan. Pada 1946, Tan Malaka dipenjara atas tuduhan makar-sebuah “pesanan” agar diplomasi dengan Belanda mulus tanpa gangguan suara keras dari kelompok radikal. Padahal, banyak pemikiran Tan yang kemudian terbukti benar. Ia menolak perundingan, sebab baginya penjajah tidak akan pernah ikhlas mengembalikan kemerdekaan. Dua tahun setelahnya, agresi militer Belanda II membenarkan pandangan itu.

Ironisnya, “testamen politik” Bung Karno yang menunjuk Tan sebagai pengganti bila ia dan Hatta ditangkap, tak pernah diwujudkan. Hatta menolak keras. Ia menganggap Tan terlalu meremehkan generasi muda yang tengah memimpin republik. Pada akhirnya, Tan tetap berada di pinggir panggung, memilih membantu “dari belakang saja.”

Perbedaan latar sosial-ekonomi dengan Hatta dan Sjahrir memperlebar jarak. Tan, bangsawan miskin dari desa, hidup dalam pengembaraan, mengajar anak-anak kuli perkebunan, bahkan bergaul dengan rakyat kecil. Sementara dua rekannya lahir di keluarga mapan, terbiasa dengan stabilitas dan akses yang lebih luas.

Kini, delapan dekade setelah proklamasi, kita diingatkan kembali-republik ini bukan hanya lahir dari proklamator yang namanya abadi dalam buku pelajaran, tetapi juga dari mereka yang rela tersisih, bahkan terhapus. Tan Malaka mungkin tidak pernah duduk di kursi kekuasaan, tetapi gagasan dan keberaniannya adalah pondasi republik.

Tugas kita sebagai bangsa adalah jujur kepada sejarah. Mengakui jasa yang terlupakan, menghadirkan kembali suara yang pernah dibungkam, agar generasi mendatang belajar bahwa kemerdekaan tidak lahir dari satu nama saja. Republik ini berdiri atas darah, pikiran, dan pengorbanan banyak orang.

Tan Malaka memang “Bapak Republik yang dilupakan.” Tetapi melupakannya sama saja mengkhianati republik itu sendiri.


Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini merupakan tajuk rencana yang merefleksikan pandangan redaksi Insetgalusnews. Setiap interpretasi atas fakta sejarah diambil dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Redaksi tidak bermaksud mengkultuskan atau mendiskreditkan tokoh tertentu, melainkan mengajak pembaca melihat kembali warisan pemikiran yang kerap terabaikan.

Catatan Rujukan:

  1. Tempo (2008), Tan Malaka; Bapak Republik yang Dilupakan. Jakarta; Majalah Tempo & KPG.
  2. Poeze, Harry A. (2007). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Jilid I–III). Jakarta; Yayasan Obor Indonesia.
  3. Soe Hok Gie (1966). Di Bawah Lentera Merah. Jakarta; Pustaka.
  4. Anderson, Benedict R. O’G. (1972). Java in a Time of Revolution; Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca; Cornell University Press.
  5. Pledoi Soekarno (1931). Indonesia Menggugat. Dikutip dari risalah persidangan Landraad Bandung.
  6. Mohammad Hatta (1970). Untuk Negeriku; Sebuah Otobiografi. Jakarta; Tintamas.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan