Kude Kekuyang, Kude Apollo!  Semarakmu Padam

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Rabu, 22 Oktober 2025 - 16:09 WIB

50546 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ibarat klub bola yang punya basis pendukung fanatik, pacuan kuda di masa lalu juga punya “ultras”nya sendiri. Bedanya, mereka tak membawa flare atau drum besar, melainkan teriakan lantang dari pinggir lintasan dan semangat kampung yang tak kalah panas. Dulu, nama-nama seperti Kude Kekuyang dari Kampung Peparik atau Kude Apollo dari kampung Bacang disebut dengan nada bangga, seperti fans bola menyebut Messi atau Ronaldo. Kuda-kuda itu menjadi legenda lintasan, membawa harum nama kampung hingga ke pelosok, dan kalau menang, satu kampung bisa pesta tanpa perlu izin semrawut.

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Pacuan kuda tradisional pernah menjadi pesta rakyat yang paling ditunggu. Pada dekade 1970-2000an, setiap kali lomba digelar, suasananya menyerupai pertandingan sepak bola besar. Setiap kampung datang membawa semangat, spanduk, dan dukungan layaknya suporter klub kebanggaan mereka.

Ibarat klub bola yang memiliki basis pendukung fanatik, pacuan kuda di masa itu juga melahirkan rasa keterikatan yang kuat antara kampung dan kuda yang mewakilinya. Nama-nama seperti Kude Kekuyang dari Kampung Peparik atau Kude Apollo dari kampung Bacang menjadi legenda yang dikenang hingga kini. Kemenangan mereka bukan hanya kebanggaan pemilik, melainkan juga kebanggaan seluruh kampung. Sorak sorai penonton menggema di sepanjang arena, menciptakan suasana gegap gempita yang sulit dilupakan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun kini, semarak itu tidak lagi seperti dulu. Pacuan kuda memang masih berlangsung, tetapi atmosfernya mulai berubah. Perlombaan yang kini dibagi berdasarkan ukuran dan kelas membuat ajang ini semakin profesional, tetapi sekaligus semakin mahal. Harga seekor kuda pacuan yang bisa mencapai ratusan juta rupiah telah memisahkan tradisi ini dari akar rakyatnya.

Masyarakat kecil, yang dulu menjadi penggerak utama dan penjaga tradisi, kini hanya bisa menonton dari pinggir lintasan. Mereka yang dulu berpartisipasi kini kehilangan ruang, karena dunia pacuan kuda telah bergeser menjadi arena eksklusif bagi kalangan tertentu.

Padahal, kekuatan sejati pacuan kuda tradisional terletak pada keterlibatan masyarakat dan kebanggaan kampung. Tanpa itu, pacuan kuda hanyalah lomba tanpa jiwa.

Pemerintah daerah dan penyelenggara perlu menghidupkan kembali semangat kebersamaan itu. Dengan memberdayakan lagi keberadaan kuda lokal, memberi dukungan bagi peserta kampung, dan menjaga nuansa tradisional, pacuan kuda bisa kembali menjadi pesta rakyat yang sesungguhnya.

Pacuan kuda adalah warisan budaya yang harus dijaga bukan hanya karena nilainya sebagai olahraga, tetapi karena di dalamnya hidup identitas, kebersamaan, dan kebanggaan rakyat. Jangan biarkan semarak itu padam, sudah selayaknya kita kembalikan pacuan kuda ke pangkuan rakyat, seperti masa ketika Kude Kekuyang dan Apollo berlari membawa harum nama kampungnya.

Tradisi yang dulu milik rakyat kini seperti konser musik yang tiketnya hanya bisa dibeli lewat aplikasi premium. Yang tersisa hanyalah kenangan, dan foto hitam putih ketika anak-anak kampung ikut berlari sambil berteriak, “ayo Kude Kekuyang! ayo Kude Apollo!”.

Padahal, kekuatan sejati pacuan kuda bukan pada kecepatannya, tapi pada kebersamaannya. Ia bukan lomba mencari siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling kompak.

Maka, sebelum kuda-kuda itu benar-benar pindah ke kandang eksklusif dan rakyat cuma jadi penonton tetap, sudah saatnya pemerintah daerah turun tangan. Bukan untuk memberi kuda suplemen impor, tapi untuk memberi semangat lokal. Buka kelas kampung, bantu perawatan kuda rakyat, dan jadikan lagi arena pacuan sebagai tempat tertawa, bersorak, dan bangga bersama.

Sebab pacuan kuda tanpa rakyat ibarat sate tanpa bumbu kacang – tetap ada dagingnya, tapi hambar di lidah.


Catatan Redaksi: Usai masa kejayaan Kude Kekuyang dan Kude Apollo yang sempat mendominasi lintasan pacu, panggung kembali bergairah dengan lahirnya kuda kuda kebanggaan baru “Kude Pantan, Kude Unik, kude Penaram dan Kude Langsat” yang menjadi simbol kebangkitan tradisi pacuan di era berikutnya.


TAJUK RENCANA | insetgalusnews | ini bukan laporan pacuan sungguhan, melainkan pacuan ide di kepala redaksi. Jika ada pihak yang merasa tersenggol, mohon jangan laporkan kudanya, laporkan saja semangatnya yang mulai melambat. Semua tajuk disampaikan tanpa cambuk, bukan dengan nada marah, melainkan dengan senyum. Kami tidak sedang bertaruh kuda, hanya bertaruh harapan agar semangat rakyat kembali berlari. Dan bila ada yang merasa tertinggal, silakan naik pelana humor terlebih dahulu sebelum tersinggung. “Sebab satir terbaik bukan yang membuat orang marah, tetapi yang membuat orang berpikir sambil tersenyum”.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan