Jiwa Aktivis versi Milisi! Jalan Panjang Perdebatan

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Jumat, 5 September 2025 - 19:38 WIB

50495 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara rakyat sering terdengar seperti bisikan di tengah deru pembangunan. Dari keresahan itu lahir dua jiwa, aktivis yang menyalakan obor kesadaran dengan kata-kata, dan milisi yang menjaga bara perjuangan dengan keberanian. Dua jalan berbeda, namun keduanya menuntun pada tujuan yang sama, membela ruang hidup agar tidak hilang ditelan rakusnya zaman

Tajuk Rencana | Insetgalusnews.com | Di tengah arus pembangunan yang kerap mengabaikan suara rakyat, kita sering menjumpai dua watak perjuangan “jiwa aktivis dan jiwa milisi“. Keduanya lahir dari keresahan yang sama, ketidakadilan, ketimpangan, dan ancaman terhadap ruang hidup. Namun cara yang ditempuh berbeda.

Jiwa aktivis tumbuh dari kesadaran intelektual. Mereka berteriak lewat spanduk, mimbar orasi, diskusi publik, hingga lembar-lembar petisi. Aktivis mengandalkan nalar, keberanian bersuara, dan advokasi kebijakan. Mereka percaya bahwa perubahan bisa didorong lewat opini publik dan tekanan moral.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, jiwa milisi adalah semangat tempur. Mereka bergerak dengan disiplin, solidaritas, dan kesiapan menghadapi risiko, bahkan benturan. Milisi melihat perjuangan bukan sekadar orasi, melainkan keberanian mempertahankan tanah, hutan, dan identitas sampai titik darah terakhir.

Gayo Lues hari ini berada di persimpangan. Ketika regulasi menggerus ruang hidup rakyat, seperti contoh kasus warga Putri Betung yang terbelenggu diwilayah KEL, atau suara petani kopi di Pantan Cuaca yang menolak tambang, atau suara mahasiswa menyuarakan aspirasinya baru baru ini.

Menyikapi ini apakah cukup dengan jiwa aktivis yang kritis, atau harus menguatkan jiwa milisi yang militan? Sesungguhnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Aktivis memberi arah intelektual, milisi memberi daya tahan perjuangan. Jika disatukan, keduanya bisa menjadi benteng terakhir masyarakat kecil di hadapan kekuatan modal dan kebijakan yang absolut.

Aktivis menyalakan obor kesadaran. Milisi menjaga agar api itu tak pernah padam. Tetapi bagaimana jika dua jiwa itu menyatu dalam satu orang? Maka lahirlah kekuatan besar yang seimbang, kemampuan intelektual untuk membangun argumen sekaligus mental baja untuk bertahan dan berjuang tanpa gentar. Sosok seperti ini berpotensi melahirkan kepemimpinan karismatik “mampu menyusun strategi dan wacana, tetapi juga punya militansi yang membuat pengikutnya percaya bahwa perjuangan tidak berhenti di kata-kata“.

Namun risiko pun mengintai. Jiwa milisi yang terlalu dominan bisa membuatnya keras dan konfrontatif, sementara jiwa aktivis yang berlebihan bisa menjerumuskannya pada wacana tanpa aksi. Jika keduanya meledak bersamaan, ia mudah dicap radikal, bahkan dianggap ancaman oleh pihak berkuasa. Dalam lanskap sosial, sosok seperti ini bisa menjadi motor perubahan, disegani kawan, ditakuti lawan, tetapi juga rawan mendapat represi.

Jika jiwa aktivis dan jiwa milisi benar-benar menyatu, lahirlah pejuang yang lengkap “punya otak untuk merumuskan gagasan, punya otot untuk mempertahankannya“. Namun keseimbangan tetaplah kunci, agar tidak terjebak ekstrem. Antara hanya bersuara tanpa daya, atau berdaya tanpa arah.


Tajuk Rencana | insetgalusnews | Ini bukan berita straight. Bukan typo, memang pakai c di sana-sini biar lebih pedas. Jika ada yang tersindir, silakan bercermin, barangkali bayangan itu memang Anda. Insetgalusnews tidak bertanggung jawab atas perasaan yang terluka, karena tugas kami hanya mengetuk nurani, bukan mengurut hati.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan