Kue, Rasa Bersalah, dan Harapan Baru Kurir Ganja Asal Sumut

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Jumat, 24 Oktober 2025 - 18:03 WIB

502,840 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo SIK menawarkan

Kapolres Gayo Lues AKBP Hyrowo SIK menawarkan "kue" kepada tersangka kurir Narkoba asal Sumut | doc | Fhoto | insetgalusnews |

Usai konferensi pers berakhir, suasana sempat hening. Secara tiba-tiba, Kapolres bangkit dari kursinya, mengambil sepiring kue basah di atas meja, lalu menyodorkannya satu per satu kepada para tersangka kurir ganja asal Sumatera Utara yang duduk tertunduk di lantai. Dalam momen sederhana itu, tatapan mereka berubah dari ketakutan menjadi campuran penyesalan dan mungkin harapan akan kesempatan memperbaiki diri.

PARIWARA | insetgalusnews.com | Di lantai dingin ruangan konferensi pers Polres Gayo Lues, enam pria berseragam oranye duduk bersisian, tangan terikat tali kuning, kepala tertunduk, dan napas mereka tertahan di balik masker medis. Mereka bukan narasi kriminal dalam poster kepolisian, mereka manusia yang sedang berhadapan dengan konsekuensi terbesar dalam hidupnya.

Ditengah mereka, bal-balan ganja siap edar ditumpuk tinggi, seolah menjadi bukti bisu betapa berat kesalahan yang mereka pikul. Namun saat Kapolres mendekat dengan sepiring “kue”, ada perubahan kecil namun signifikan. Wajah-wajah yang semula tegang mulai menunjukkan keterkejutan, diikuti tatapan hening yang tidak lagi penuh perlawanan, melainkan perenungan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut psikologi kriminal, pelaku kurir narkotika sering berada dalam fase psikologis yang dikenal sebagai cognitive dissonance, yaitu benturan antara perbuatan yang telah dilakukan dan nilai moral yang mereka ketahui benar. Dalam kondisi tertekan karena proses hukum, sisi emosional mereka menjadi lebih sensitif terhadap simpati dan perlakuan manusiawi.

“Kami tetap memperlakukan mereka secara manusiawi, karena proses pembinaan psikologis juga penting. Mereka harus sadar bukan hanya karena takut hukuman, tapi karena memahami dampak kesalahannya,” ujar Kapolres AKBP Hyrowo SIK, Jumat (24/10) menegaskan pendekatan restorative yang digunakan dalam proses hukum.

Sebagai kurir yang seluruhnya berasal dari Sumatera Utara, mereka mengaku terdesak kebutuhan ekonomi. Iming-iming uang cepat membuat mereka masuk dalam jaringan yang tak sepenuhnya mereka pahami. Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai situational trap, di mana tekanan ekonomi dan lingkungan kriminal mendorong individu mengambil risiko besar tanpa perhitungan masa depan.

Namun ketika diberi makanan sederhana, interaksi manusiawi tersebut bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan stimulus emosional yang memantik refleksi. Sepotong kue basah bisa menjadi simbol bahwa mereka masih dianggap manusia, bukan sekadar “pelaku”.

Ketika satu dari mereka menggigit kue perlahan, matanya tampak berkaca. Mungkin ia sedang mengingat ibunya, istrinya, atau anaknya di kampung. Mungkin ia baru benar-benar menyadari bahwa perjalanan singkat mengantar barang haram kini berganti jalan panjang menuju penyesalan dan hukuman.

Dalam terminologi psikologi pemasyarakatan, momen empati dari aparat dapat menjadi titik awal pembentukan remorse rasa penyesalan mendalam, yang menjadi fondasi penting bagi perubahan perilaku.

Di sinilah pendekatan humanis Kapolres menjadi signifikan. Bahwa hukum tetap ditegakkan, namun kesadaran moral pelaku juga perlu dibangunkan, bukan dipadamkan.

Karena seringkali, pintu kembali menuju kebaikan tidak dibuka dengan hukuman semata, melainkan dengan sentuhan kemanusiaan yang membuat seseorang ingin berubah.

“Kadang, sepotong kue bisa lebih keras daripada borgol, karena ia mengetuk hati mereka yang sedang kehilangan arah.”

Redaksi | insetgalusnews |

Berita Terkait

Inspirator yang Membumi: Jejak Hidup Edwar Canto Menjelang Purna Tugas
Meniti Jalan Dakwah dan Pengabdian, Secuil Kisah Ustad Amsyarullah di Negeri Seribu Bukit
Mengenal Lebih Dekat Sosok Inspiratif Doktor Sartika Mayasari
Menapaki Jejak Pengabdian Bung Khairuddin, dari Ruang Kelas hingga Kursi Ketua KIP Gayo Lues
Mudik yang Tertunda, Drama di Balik Terungkapnya Pembunuhan di Hari Fitri 1447H
Dia bernama Ibnu Hasim
Jejak Pengabdian “Bang Bram Aceh” Di Tanoh Gayo
Mengenal Lebih Dekat Muhtarudin, Kepala SMA Negeri 1 Putri Betung yang Visioner dan Membumi

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:42 WIB

Pesan dari Kalimantan Menggema hingga Jakarta, PW GP Al Washliyah DKI: Lagu ‘Teruslah Melangkah’ Mayjen TNI Krido Pramono Bangkitkan Semangat Generasi Muda Berkarya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:54 WIB

Rencana Kenaikan Gaji TNI Wujud Penghargaan Presiden Prabowo atas Pengabdian Prajurit

Sabtu, 18 Juli 2026 - 00:07 WIB

Lapor Pak Ketua Komisi III DPR RI : Aksi Demo Minta Kapolrestabes Medan Tangkap Mamak Maling, Puluhan BH Dijemur

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:40 WIB

Bursa Capres 2029 : Prabowo, Samsuri, S.Pd.I, M.A dan Anies, 3 Nama Calon Kuat untuk Pilpres 2029

Sabtu, 11 Juli 2026 - 00:35 WIB

Apresiasi Langkah Nyata Menteri PU, PP GPA: Peresmian 5 Bendungan oleh Presiden Prabowo adalah Pondasi Emas Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:19 WIB

PW GP Al Washliyah DKI Jakarta Dukung Penuh Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Tata Kelola Batu Bara

Senin, 6 Juli 2026 - 14:10 WIB

Aksi Unjuk Rasa Mendesak Transparansi Pengadaan Rudal BrahMos dan Penguatan Pengawasan DPR

Kamis, 2 Juli 2026 - 11:52 WIB

Wujudkan Kota Bogor Aman, Ikatan Alumni dan Pelajar STM/SMK Sepakat Tolak Kekerasan

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan