Sekarang Gali Emas, Nanti Warga Gali Nafas-Kenapa Bukan Jadi Geopark Saja?

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 29 Juli 2025 - 10:24 WIB

50991 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar hanya ilustrasi pemanis Tajuk Rencana kalau tak elok disebut Tajuk Jenaka | doc | inset |

Gambar hanya ilustrasi pemanis Tajuk Rencana kalau tak elok disebut Tajuk Jenaka | doc | inset |

Tambang datang seperti pesta kejutan, Meriah, berkilau, penuh jamuan. Tapi tuan rumah cuma disuruh sapu halaman, Dan disisakan jejak ban raksasa di badan jalan.

Sementara burung-burung mulai pindah domisili, Air surut, daun gugur, warga termenung di tepi. Katanya masih eksplorasi, belum eksploitasi, Tapi suara alam sudah menjerit, tanpa sensasi.

Dan di pojok ruangan bioskop bernama “Negeriku Tercinta”, Pemerintah daerah duduk manis-tanpa skrip, tanpa pita. Tugasnya hanya menyaksikan, Saat hutan ditebang, dan janji dibicarakan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Catatan kecil dari balik tawa: Ini lucu, tapi sebenarnya… tidak lucu juga

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Dari kejauhan, bukit-bukit Pantan Cuaca tampak biasa saja. Hijau, tenang, dan menggoda kamera. Tapi mendekatlah sedikit, maka tampak alat berat menderu. Ternyata bukan cari rumput, apalagi bahan rebusan, tapi emas-katanya demi kesejahteraan.

Sayangnya, warga yang tinggal di bawah bukit justru sibuk… menggali napas. Cari air bersih, cari ketenangan, cari tahu dari tambang ini, kami dapat apa?

Hadirnya tambang di kampung sendiri kadang seperti pesta mewah di rumah orang sederhana. Meriah, gemerlap, penuh tamu dari luar. Tapi tuan rumah? Cuma kebagian nyapu halaman-itu pun setelah para tamu pulang.

Perusahaan bilang, “Kami sudah kantongi izin dari pusat.” Wah, selamat! Tapi ketika nanti warga bertanya tentang dampak lingkungan, jawabannya enteng “Silakan tanya ke kementerian.” Alamatnya? Jauh. Jakarta.

Sementara itu, warga hanya bisa bertanya ke langit soal air yang mulai surut, suara burung yang pelan-pelan ikut pindah, dan jalan desa yang kini tampak seperti bekas uji coba ban truk tambang. Tapi itupun nanti bukan sekarang. Karena hari ini masih Eksplorasi belum tahap Eksploitasi.

Di Balik Candaan Ini: Serius Jika Nanti Sudah Eksploitasi 

Pemerintah Daerah Cuma Penonton di Tanah Sendiri

Karena izinnya dari pusat, pemerintah daerah seperti numpang nonton bioskop di rumah sendiri. Mau intervensi? Sulit. Akhirnya, yang didapat cuma PR lingkungan dan aspirasi warga yang makin panjang, tapi kewenangan pendek.

Hutan Gundul, Air Surut, Udara Ikut Berubah

Jika tambang menyentuh kawasan hutan atau sumber air, maka yang hilang bukan cuma pepohonan tapi juga sumber kehidupan. Ketika warga mengeluh, jawabannya “Sudah ada AMDAL, kok.” Tapi realita di lapangan, Air keruh, Ikan hilang, Sungai seperti rendaman excavator

Manfaat Ekonomi? Masih di Angan-Angan

Tenaga kerja lokal? Ada. Tapi lebih banyak jadi buruh harian lepas, dorong alat, tarik rig, bersih-bersih. Yang betul-betul sejahtera? Masih misteri. Suatu saat nanti, jalan desa akan jadi kolam lumpur, dan warung kopi lebih ramai oleh debu ketimbang pelanggan.

PAD: Masih Pajangan, Belum Kas Nyata

Janji PAD miliaran? Tentu menggoda. Tapi royalti hanya turun jika tambang naik kelas, dari eksplorasi ke eksploitasi. Sekarang? Masih fase “gali harapan”, belum “gali kas daerah”.

Masyarakat Sejahtera? Tunggu Dulu

Kesejahteraan hanya mungkin terjadi jika:

  • Perusahaan Tambang lanjut ke tahap produksi resmi dan membagi royalti
  • Pemda serius mengelola PAD untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan desa
  • Ada CSR nyata, bukan hanya sembako menjelang lebaran
  • Ada pengawasan lingkungan aktif, bukan laporan fiktif

Kalau Ada Masalah, Lapor ke Siapa?

Kalau nanti longsor? Banjir? Gagal panen? Perusahaan bilang “Itu bencana alam.” Pemerintah bilang “Itu ranah pusat.” Warga pun akhirnya bertanya “Jadi kami lapor ke siapa? Ke langit?”

Manfaat Sekejap, Dampak Seumur Tanah

Kalau soal angka, tambang memang bisa menggiurkan. Tapi mari jujur: Apakah uang itu sebanding dengan air yang hilang, udara yang tercemar, dan generasi mendatang yang hanya mewarisi tanah bekas galian?

Karena:

  • Emas bisa habis
  • Sungai tercemar butuh puluhan tahun pulih
  • Hutan tak bisa tumbuh kembali dalam satu periode jabatan
  • Kesehatan warga tak bisa ditebus dengan nasi kotak atau sembako

Jika tambang hanya mengejar manfaat sesaat, sementara dampaknya ditanggung cicilan oleh anak cucu, maka jawabannya tegas: Tidak sebanding. Kecuali…

  • Royalti dibagi adil
  • Lingkungan diawasi serius
  • CSR bukan hanya tempelan
  • Rakyat dilibatkan, bukan diabaikan

Kalau tidak? Ya maaf-yang kaya pengusaha, yang penat… ya warga.

Daripada Jadi Lubang, Kenapa Tidak Jadi Geopark?

Kalau daerah ini menyimpan kekayaan, kenapa yang digali justru emasnya? Padahal bukit dan hutan ini punya potensi besar jadi Geopark Nasional-bahkan bisa tembus ke UNESCO Global Geopark, jika dikelola dengan cinta, bukan ekskavator.

Kalau jadi Geopark:

  • Yang datang bukan truk, tapi wisatawan dan peneliti
  • Yang tumbuh bukan hanya PAD, tapi juga UMKM lokal, ekowisata, identitas budaya
  • Dan yang dirawat bukan hanya angka, tapi juga alam, warisan, dan masa depan anak cucu

Bukankah lebih mulia menjadikan hutan sebagai tempat edukasi dan wisata, daripada meninggalkannya sebagai kenangan luka bekas tambang?

Karena Sudah Capek Mengetik di Windows Yang Sudah Tua, Akhir Kata:

Untuk penambang: Kalau niatnya berkah, jangan sisakan musibah.

Untuk pemerintah pusat: Jangan cuma tekan gas, beri juga rem buat daerah.

Untuk pemerintah daerah: Jangan cuma bangga pasang spanduk “Selamat Datang Investor”, tapi lupa pasang rambu “Awas, Hutan Hilang”.


Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah tajuk rencana yang dikemas dalam versi jenaka, sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Tidak bermaksud menyerang pribadi atau lembaga mana pun, melainkan mengajak berpikir: apakah masa depan kita hanya sekadar gali, gali, gali-dan akhirnya, gali lubang untuk diri sendiri? Kalau tersinggung berarti cermin sedang mengarah kepada anda.

Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini mungkin terasa serong, seperti helm proyek. Maka, terbuka hak jawab dan klarifikasi, sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999. Silakan luruskan bila ada yang bengkok.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan