Tan Malaka, Disela Stigma “Kiri” dan Pemikiran Revolusioner

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Sabtu, 6 September 2025 - 21:24 WIB

50646 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Disebut kiri, dianggap komunis, lalu diminggirkan dari sejarah. Begitulah nasib Tan Malaka, seorang pemikir revolusioner yang gagasannya justru lebih besar daripada sekadar stigma politik

Tajuk Rencana | insetgalusnews.com | Tan Malaka adalah nama yang kerap muncul dalam perdebatan sejarah Indonesia, terutama ketika menyangkut ideologi kiri. Sejarawan, akademisi, hingga politisi sering menyebutnya sebagai bagian dari “aliran kiri” label yang lahir dari konteks politik global pada awal abad ke-20. Tetapi, apakah benar Tan Malaka murni seorang ideolog kiri dalam arti sempit, ataukah ia sosok yang lebih kompleks dari sekadar kategori ideologis?

Secara historis, Tan Malaka memang berangkat dari tradisi Marxis dan terhubung dengan gerakan komunis internasional. Ia menimba ilmu di Belanda, kemudian berinteraksi dengan pemikiran revolusioner yang berkembang di Eropa. Dari situlah ia mengadopsi gagasan sosialisme, perlawanan kelas, hingga pentingnya pembebasan kaum tertindas. Wajar jika kemudian ia dilabeli sebagai tokoh kiri.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, reduksi pemikiran Tan Malaka hanya sebagai “komunis” atau “kiri” sering kali menafikan kompleksitas gagasannya. Dalam karya monumentalnya “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), ia justru mengajak bangsa Indonesia berpikir rasional, ilmiah, dan tidak terjebak dalam dogma, termasuk dogma kiri itu sendiri. Bahkan, dalam praktik politiknya, Tan Malaka tidak jarang berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena perbedaan strategi perjuangan.

Label kiri lebih tepat dipahami sebagai cermin zamannya kolonialisme, kapitalisme, dan ketimpangan sosial yang menuntut lahirnya alternatif ideologi pembebasan. Di tengah arus besar perlawanan global, Tan Malaka meminjam bahasa kiri untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi pada saat yang sama, ia tetap menekankan nasionalisme sebagai fondasi utama perjuangan.

Hari ini, menyebut Tan Malaka sebagai “aliran kiri” tidak bisa lagi sekadar dimaknai sebagai stigma politik. Justru label itu seharusnya menjadi pintu masuk untuk membaca ulang ide-idenya yang progresif, pendidikan sebagai basis kemerdekaan, kesetaraan sosial, serta kemandirian bangsa dari cengkeraman asing. Pemikiran itu tetap relevan, bahkan ketika istilah kiri dan kanan semakin cair dalam politik kontemporer.

Tan Malaka adalah cermin bahwa sejarah tidak bisa dipahami dengan kacamata hitam-putih. Ia seorang pemikir yang menolak dikungkung, seorang revolusioner yang lebih besar dari sekadar label kiri. Jika bangsa ini ingin jujur membaca warisan intelektualnya, maka yang lebih penting bukanlah memperdebatkan “kiri” atau “kanan”, melainkan menggali esensi gagasannya bagi masa depan Bangsa.


Catatan Redaksi: Seluruh tajuk rencana di Insetgalusnews ditulis berdasarkan analisis redaksi dengan merujuk pada sumber-sumber sejarah, akademik, dan media yang dapat dipertanggungjawabkan. Penyebutan Tan Malaka sebagai “aliran kiri” semata-mata bersifat historis dan kontekstual. Redaksi tidak bermaksud memberikan stigma ideologis atau penilaian personal terhadap tokoh sejarah. Tulisan ini harus dipahami dalam kerangka wacana akademis, historis, dan jurnalistik.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan