TNGL-Benteng Satwa Langka yang Berhimpitan Dengan Rakyat Kecil

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 16:39 WIB

501,005 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di atas kertas, Taman Nasional Gunung Leuser adalah hutan yang harus steril dari manusia. Di lapangan, ia adalah rumah ribuan keluarga yang sudah hidup di sana sejak sebelum negara menetapkannya sebagai kawasan konservasi. Lalu, siapa yang sebenarnya harus pergi, manusia atau kebijakan?

TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Bayangkan sebuah bentang hutan raksasa, rumah terakhir bagi harimau sumatera, orangutan, gajah, dan badak yang kian langka. Tempat itu nyata, namanya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Membentang hampir 1,1 juta hektare dari Aceh hingga Sumatera Utara, TNGL menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. Sejak 1980, pemerintah menetapkannya sebagai taman nasional yang dilindungi ketat oleh aturan nasional maupun internasional. Tak boleh ada kebun baru, tambang, atau bangunan permanen-semua demi menjaga kelestarian hutan dan satwa yang hidup di dalamnya.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengakuan tak hanya datang dari dalam negeri. Pada 2004, UNESCO menetapkan TNGL sebagai bagian dari Warisan Dunia bersama dua taman nasional lain di Sumatera. Namun, sejak 2011, status itu turun menjadi “Warisan Dunia dalam Bahaya” akibat pembalakan liar, pembukaan lahan, tambang, dan pembangunan infrastruktur yang mengancam ekosistemnya.

Namun TNGL bukanlah hutan kosong. Di banyak titik, warga telah tinggal dan bertani jauh sebelum kawasan ini disahkan sebagai taman nasional. Mereka hidup dari kemiri, cokelat, dan hasil hutan lainnya. Perubahan status kawasan membuat aktivitas itu kini dinilai melanggar aturan konservasi.

Pemerintah memang telah memberi pengakuan, menetapkan kawasan enklave seluas sekitar 2.900 hektare bagi warga yang sudah lama bermukim di sana. Tapi hidup tak berhenti di peta. Jumlah penduduk bertambah, lahan makin sempit, dan kebutuhan terus mendesak. Sebagian warga pun terpaksa menembus batas kawasan hutan untuk mencari tanah garapan baru, meski sadar langkah itu berisiko berhadapan dengan hukum.

Secara geografis, TNGL adalah bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang jauh lebih luas, sekitar 2,6 juta hektare di Aceh. Di atas kertas, zonasi sudah jelas mana yang steril dari manusia, mana yang untuk pemanfaatan terbatas, dan mana yang masih boleh untuk aktivitas tradisional. Namun di lapangan, batas-batas itu sering kabur. Peta bisa berubah, dan tiba-tiba kebun warga masuk zona inti tanpa mereka tahu.

Hutan Leuser adalah paru-paru dunia, tapi juga tanah kehidupan ribuan keluarga. Konservasi bukan semata menjaga pohon dan satwa, melainkan memastikan manusia dan alam tetap hidup berdampingan secara seimbang. Menyelamatkan hutan tidak harus berarti mengorbankan rakyat kecil yang sudah menjadi bagian dari ekosistem itu.

Taman Nasional Gunung Leuser adalah milik dunia, milik Indonesia, dan juga milik masyarakat yang telah hidup di dalamnya turun-temurun. Yang dibutuhkan hari ini bukan hanya perlindungan hukum yang tegas, tetapi juga kebijakan yang adil, manusiawi, dan berpihak pada kehidupan.


TAJUK | insetgalusnews | ini adalah pandangan mengenai kondisi TNGL dan persoalan masyarakat di sekitarnya. Tajuk ini tidak dimaksudkan menyerang pihak mana pun, melainkan sebagai refleksi dan ajakan berdiskusi mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Redaksi insetgalusnews terbuka terhadap hak jawab dan koreksi jika terdapat kekeliruan.

Berita Terkait

Jembatan Darurat Pintu Rime-Pining. Menutup Kekosongan Kebijakan Pasca Bencana. Siapa Yang Berperan?
Kriminal Ramai, Akhlak Sepi
Huntara dan Tanggung Jawab Pelaksana yang Tak Boleh Samar
Ganja Dibasmi, Kemiskinan Dibiarkan? Setelah Dibakar, Lalu Mau Diapain?  
Bencana Hidrometeorologi Aceh-Pengingat Bagi Kamu Aku dan Dia
Bencana Hidro! Alam Berdzikir dan Amanah Diuji
Cermin Retak Perbaikan Jalan Blangkejeren-Kutacane, Negara Diuji di Pegunungan Gayo Lues
Sodara Dari Abdya, Ia Ada Bersama Kita

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan