GAYO LUES | insetgalusnews.com | Jumat sore itu, langit Kampung Sere, Kecamatan Blangkejeren, tampak kelabu sejak siang. Udara lembap menyelimuti dusun kecil Buntul Kemenyan. Hujan mulai turun perlahan, lalu makin deras. Tak ada yang menyangka, hanya dalam hitungan menit, angin datang menerjang keras, mengamuk, menggulung genteng dan papan-papan rumah. Peristiwa itu terjadi sekira pukul 14.00 Wib, Jumat (30/5/2025).
Salah satu rumah yang tak kuat menahan amukan alam adalah milik Muhamad Zakaria, atau yang lebih dikenal warga sekitar sebagai Aman Dahniar. Pria berusia 50 tahun itu hanya bisa terpaku menyaksikan atap rumahnya beterbangan, diseret angin yang memekakkan telinga. Hujan pun tumpah masuk ke dalam rumah, membasahi seluruh isi ruangan.
“Angin datang tiba-tiba. Suaranya seperti gemuruh besar,” cerita seorang warga yang menjadi saksi mata kepada media ini dilokasi, Jumat (30/5). Dalam sekejap, atap rumah Aman Dahniar rusak parah. Bagian-bagian rumah lainnya pun ikut terdampak, menyebabkan keluarga tersebut harus segera mengungsi.
Pemerintah desa bergerak cepat. Bersama tim dari BPBD Gayo Lues dan aparat TNI, mereka mengevakuasi barang-barang milik korban yang masih bisa diselamatkan. Di sela-sela hujan yang masih turun, warga lain ikut membantu membersihkan pecahan seng dan kayu dari halaman.
Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Tapi luka di hati warga, khususnya keluarga Aman Dahniar, tak bisa diukur dari jumlah kerugian materi. Rumah yang mereka bangun dan tinggali bertahun-tahun, kini hanya tersisa dinding-dinding yang basah dan reruntuhan.
Sampai berita ini ditulis, belum ada informasi pasti berapa rumah yang terdampak secara keseluruhan. BPBD masih terus melakukan pendataan. Namun, bagi warga Kampung Sere, cukup satu rumah hancur untuk menjadi isyarat bahwa alam tak lagi bisa diprediksi.
Musibah ini datang tanpa aba-aba. Langit tak memberi isyarat lebih dari biasanya. Tapi begitu bencana itu terjadi, warga bahu-membahu, menyingkirkan rasa takut dan duka, menggantinya dengan ketulusan menolong.
“Yang penting kami selamat. Rumah bisa kami bangun lagi. Tapi nyawa tidak bisa diganti,” ucap Aman Dahniar pelan, sore itu (30/5) sambil menatap sisa-sisa rumahnya yang kini terbuka lebar tanpa atap.
Redaksi | insetgalusnews|



































