Ketua LFMPK: Jabatan Strategis Dibiarkan Kosong, Siapa Untung, Siapa Dirugikan ?

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Jumat, 30 Mei 2025 - 15:22 WIB

501,463 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES  | insetgalusnews.com | Tiga jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dibiarkan kosong. Banyak pihak bertanya tanya, apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik senyapnya pengisian kursi-kursi penting itu? Terutama posisi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), yang hingga kini belum memiliki pejabat definitif.

Padahal, lembaga ini adalah jantung pembangunan daerah, tempat segala program, anggaran, dan arah kebijakan dibentuk. Namun entah mengapa, hingga saat ini, kursi penting tersebut masih juga belum diisi secara resmi.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Masyarakat Pembela Kebenaran (LFMPK) Gayo Lues, Syafaruddin Telfie, mengaku heran dan sekaligus prihatin dengan kondisi ini. Dalam perbincangannya dengan kru Insetgalus News, Minggu lalu Jumat (16/05/2025), ia menyebut tiga lembaga vital seperti Bappeda, Dinas Pendidikan, dan BPBD saat ini hanya diisi oleh pelaksana tugas (Plt).

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita harus sadar, Bappeda itu tulang punggung pembangunan. Kalau dibiarkan tanpa nahkoda, bagaimana daerah ini mau maju?” tegas Syafaruddin.

Lebih mengejutkan, menurutnya, nama-nama calon Kepala Bappeda kemungkinan sudah dikantongi oleh Bupati dan Wakil Bupati, namun hingga kini belum juga diumumkan. Hal ini memunculkan spekulasi ada kepentingan apa di balik penundaan ini? Siapa yang diuntungkan?

Syafaruddin tak menyebut secara gamblang siapa yang dimaksud, namun memberi kode bahwa ada tiga figur internal yang dia yakin mumpuni.

“Satu eselon IIIb, dua lagi pejabat tinggi pratama. Mereka sudah terbukti mampu, tapi mungkin ada pertimbangan politik lain yang belum selesai,” ujarnya sembari tersenyum penuh makna.

Pernyataan itu memicu dugaan bahwa proses seleksi pejabat tak lagi hanya berbasis kompetensi, tetapi telah menjadi arena kompromi kekuasaan. Sementara itu, pembangunan daerah bisa saja menjadi korban tarik-ulur kepentingan yang tak kasat mata.

Menariknya, kata bung Syafar, ketika dibandingkan dengan beberapa kabupaten tetangga seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, tampak kontras yang mencolok. Di kedua daerah itu, posisi Kepala Bappeda diisi secara definitif dan bahkan dijadikan pusat penggerak reformasi birokrasi pembangunan. Dalam kurun dua tahun terakhir, Aceh Tengah berhasil mempercepat penyerapan Dana Alokasi Khusus (DAK) berkat peran aktif Bappeda dalam menyusun program lintas sektor yang solid. Sementara itu, Bener Meriah mencatat lonjakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) karena perencanaan pembangunan difokuskan pada sektor pendidikan dan kesehatan secara berkelanjutan.

Hal ini membuktikan bahwa ketika Bappeda dipimpin oleh figur kompeten dan definitif, dampaknya nyata terhadap percepatan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.

Banyak pihak menilai, kondisi ini terjadi karena ada tekanan dari pihak luar, termasuk dari “mba lelo” (red-redaksi) dan jaringan politik tertentu dalam proses penunjukan kepala dinas strategis. Jika benar, ini menjadi sinyal bahaya bagi integritas birokrasi dan masa depan pembangunan daerah.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Gayo Lues belum memberikan penjelasan resmi mengenai keterlambatan pengangkatan Kepala Bappeda.

Bisa jadi, akibat keterlambatan ini program perencanaan daerah akan berjalan setengah hati, dan yang pasti masyarakat tetap menunggu kejelasan.

“Bappeda bukan sekadar jabatan. Ini adalah otak pembangunan. Jika dibiarkan kosong dan jadi permainan politik, maka Gayo Lues sedang dipertaruhkan. Sementara daerah lain berlari, Gayo Lues masih sibuk bertanya siapa yang pantas, dan siapa yang sedang bermain” demikian Syafarudin Telfie.

Redaksi | insetgalusnews.com |

Berita Terkait

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon
Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi
Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung
Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues
Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat
Kapolres Gayo Lues Ganjar Personel Berprestasi, IDI Beri Apresiasi atas Pengungkapan Kasus Dokter Muda
Akses Perkebunan Rusak, Warga Terpaksa Panggul Bibit Kopi Kelokasi Tanam
Atasi Gangguan Pascabencana, Diskominfo Galus Wacanakan Jaringan Internet Mandiri

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:42 WIB

Pesan dari Kalimantan Menggema hingga Jakarta, PW GP Al Washliyah DKI: Lagu ‘Teruslah Melangkah’ Mayjen TNI Krido Pramono Bangkitkan Semangat Generasi Muda Berkarya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:54 WIB

Rencana Kenaikan Gaji TNI Wujud Penghargaan Presiden Prabowo atas Pengabdian Prajurit

Sabtu, 18 Juli 2026 - 00:07 WIB

Lapor Pak Ketua Komisi III DPR RI : Aksi Demo Minta Kapolrestabes Medan Tangkap Mamak Maling, Puluhan BH Dijemur

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:40 WIB

Bursa Capres 2029 : Prabowo, Samsuri, S.Pd.I, M.A dan Anies, 3 Nama Calon Kuat untuk Pilpres 2029

Sabtu, 11 Juli 2026 - 00:35 WIB

Apresiasi Langkah Nyata Menteri PU, PP GPA: Peresmian 5 Bendungan oleh Presiden Prabowo adalah Pondasi Emas Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:19 WIB

PW GP Al Washliyah DKI Jakarta Dukung Penuh Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Tata Kelola Batu Bara

Senin, 6 Juli 2026 - 14:10 WIB

Aksi Unjuk Rasa Mendesak Transparansi Pengadaan Rudal BrahMos dan Penguatan Pengawasan DPR

Kamis, 2 Juli 2026 - 11:52 WIB

Wujudkan Kota Bogor Aman, Ikatan Alumni dan Pelajar STM/SMK Sepakat Tolak Kekerasan

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan