Komunitas Petani Pantan Cuaca, Kami Korbankan Terlalu Banyak Jika Tambang Terus Jalan

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Selasa, 8 Juli 2025 - 18:09 WIB

501,808 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo | doc | Komunitas Petani Kopi Pantan Cuaca

Photo | doc | Komunitas Petani Kopi Pantan Cuaca

Wawancara Eksklusif  Bersama Komunitas Kopi | Selasa 8 Juli 2025

GAYO LUES | insetgalusnews.com | Kekhawatiran terhadap aktivitas eksplorasi tambang emas PT Gayo Mineral Resources (GMR) terus disuarakan oleh masyarakat Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, khususnya para komunitas petani kopi. Sebagai kawasan yang 90 persen warganya menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan, terutama kopi Arabika Gayo.

Apa sebenarnya yang menjadi kekhawatiran mereka? Berikut wawancara eksklusif kru insetgalusnews.com bersama salah satu petani kopi Pantan Cuaca, Baihaqi, Selasa 8 Juli 2025 yang menyampaikan suara hati mereka dan alasan di balik penolakan terhadap aktivitas perusahaan tersebut. Berikut petikannya:

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang menjadi kekhawatiran utama para petani terhadap keberadaan tambang di Pantan Cuaca?

“Pertama, kami ini hidup dari pertanian dan perkebunan. Lebih dari 90% masyarakat Pantan Cuaca adalah petani. Kehadiran tambang emas jika meningkat dari ekplorasi ke tahap ekploitasi akan berpotensi merusak lingkungan hidup. Terjadi erosi, deforestasi, dan pencemaran mata air. Kalau ini terjadi, daya dukung lingkungan terhadap usaha tani akan menurun drastis”.

Pantan Cuaca dikenal sebagai daerah penghasil kopi Gayo berkualitas, bagaimana dampaknya terhadap komoditas tersebut?

“Kopi Arabika Gayo dari Pantan Cuaca pernah menorehkan prestasi dunia. Tahun 2018, kami berhasil meraih juara 3 dunia dalam kontes kopi yang diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association of America (SCAA). Sekarang bayangkan, kalau ada isu bahwa kopi kami mengandung residu zat kimia dari limbah tambang. Pasar internasional bisa langsung jatuh. Itu akan menjadi pukulan telak bagi kami”.

Berapa luas lahan kopi yang terdampak secara langsung?

“Lahan kopi Arabika Gayo di Pantan Cuaca saat ini lebih dari 5.000 hektare. Artinya, lebih dari 5.000 petani bisa kehilangan sumber penghasilan utama bila pasar menolak kopi kami karena dampak tambang. Ini bukan soal satu dua orang, ini soal ribuan keluarga”.

Apakah kondisi lingkungan saat ini masih ideal untuk produksi kopi?

“Alhamdulillah, cita rasa kopi Gayo Pantan Cuaca yang khas terbentuk dari tanah yang subur dan iklim yang sangat cocok. Tapi kalau tambang masuk dan merusak lingkungan, terjadi deforestasi, perubahan iklim lokal pun tak terhindarkan. Ini bisa menurunkan kualitas rasa dan produktivitas kopi kami ke depan”.

Kopi Gayo juga memiliki sertifikasi internasional, apakah itu juga terancam?

“Benar. Kopi Gayo Pantan Cuaca adalah bagian dari Indikasi Geografis (IG) Internasional dengan nomor ID G 000 000 005, bersama kopi dari Aceh Tengah dan Bener Meriah. Jika nama besar kopi Gayo rusak karena isu lingkungan, maka bukan hanya kami yang dirugikan, tapi seluruh petani di tiga kabupaten dan bahkan Indonesia. Kita tahu 80% ekspor kopi Indonesia berasal dari kopi Gayo”.

Apa tanggapan Anda terhadap wilayah tambang yang berada di dalam kawasan hutan lindung?

“Ini juga sangat menyakitkan. Wilayah eksplorasi PT GMR banyak berada di kawasan hutan lindung dan hutan primer, yang di dalamnya terdapat alur-alur mata air. Air ini dipakai masyarakat setiap hari. Kami kecewa pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memberi izin eksplorasi ribuan hektare hutan. Padahal ini hutan yang kami anggap sebagai paru-paru dunia”.

Apa harapan Anda ke depan?

“Kami petani kopi Gayo Pantan Cuaca menyatakan penolakan secara tegas. Kami tidak ingin anak cucu kami kehilangan warisan alam ini. Kami akan terus bergerak dan menyuarakan aspirasi sampai Bapak Presiden mencabut izin penambangan di daerah kami. Terlalu banyak yang akan kami korbankan jika tambang terus berjalan”.


Redaksi | insetgalusnews.com | memberikan ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam wawancara ini, apabila ingin memberikan penjelasan atau klarifikasi atas pernyataan-pernyataan tersebut sesuai kode etik jurnalistik.

Redaksi juga mengimbau agar semua pihak terkait, baik pemerintah pusat maupun daerah, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap potensi dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas pertambangan di Gayo Lues, serta menjunjung tinggi prinsip pembangunan berkelanjutan yang adil bagi masyarakat lokal.

Liputan oleh: Tim Redaksi insetgalusnews.com
Editor: Malik Lingga

Berita Terkait

Petani Resah, Harimau Dilaporkan Berkeliaran di Pegunungan Blang Pegayon
Ridwansyah SP, Budaya “Panglo” Kearifan Lokal Menekan Biaya Tanam Kopi
Bantuan Bibit Kopi Pemerintah Picu Kebingungan Petani soal Aturan Hutan Lindung
Harimau Sumatera Serang Warga di Gayo Lues
Kunjungi Gayo Lues, Kapolda Aceh Minta Polisi Perkuat Pelayanan ke Masyarakat
Kapolres Gayo Lues Ganjar Personel Berprestasi, IDI Beri Apresiasi atas Pengungkapan Kasus Dokter Muda
Akses Perkebunan Rusak, Warga Terpaksa Panggul Bibit Kopi Kelokasi Tanam
Atasi Gangguan Pascabencana, Diskominfo Galus Wacanakan Jaringan Internet Mandiri

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan