
Di sebuah desa terluar. Di pedalaman Gayo yang dikelilingi bukit dan kabut. Seorang bayi lahir. Tak ada yang menulis ramalan di dinding rumah kayu waktu itu. Bahwa bayi itu kelak akan memimpin sebuah kabupaten selama sepuluh tahun. Yang ada mungkin hanya tangisan bayi, suara kokok ayam, dan orang-orang kampung yang sibuk dengan ladang. Bayi itu bernama Ibnu Hasim.
PARIWARA | insetgalusnews.com | Pagi di pedalaman Gayo sering dimulai dengan kabut tipis yang turun dari punggung bukit. Di sebuah desa bernama Terangun, kabut itulah yang dulu menyelimuti masa kecil seorang anak desa bernama Ibnu Hasim. Tak banyak yang menyangka, dari desa terpencil itu kelak lahir seorang pemimpin yang memegang kendali pemerintahan Kabupaten Gayo Lues selama satu dekade penuh.
Lahir pada 28 Februari 1963 di Desa Terangun. Yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues. Ibnu Hasim tumbuh dalam lingkungan masyarakat pedalaman yang sederhana. Latar belakang sebagai anak desa sering disebut sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ia mengenal betul bagaimana medan terjal, akses terbatas, dan kehidupan masyarakat Gayo yang bergantung pada alam.
Pengalaman itu pula yang kemudian membentuk cara pandangnya ketika kelak memimpin daerah yang dijuluki “Negeri Seribu Bukit.”
Meniti Jalan dari Dunia Birokrasi
Sebelum dikenal sebagai politisi, Ibnu Hasim lebih dulu meniti karier panjang sebagai birokrat, khususnya di bidang keuangan daerah. Pengalaman inilah yang membentuk reputasinya sebagai pejabat yang memahami seluk-beluk administrasi dan pengelolaan anggaran pemerintah.
Secara akademik, ia memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan erat dengan administrasi publik dan manajemen pemerintahan. Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara, ia melanjutkan studi hingga meraih Sarjana Sosial (S.Sos.).
Tak berhenti di situ, Ibnu Hasim juga menempuh pendidikan Magister Manajemen (MM), yang kemudian memperkuat kompetensinya dalam bidang tata kelola organisasi dan manajemen keuangan daerah.
Bekal pendidikan tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya di pemerintahan.
Memimpin di Masa Awal Kabupaten
Nama Ibnu Hasim semakin dikenal publik ketika ia terpilih sebagai Bupati Gayo Lues. Ia memimpin kabupaten tersebut selama dua periode berturut-turut, 2007-2012 dan 2012-2017.
Masa kepemimpinannya datang pada fase penting dalam sejarah daerah itu. Gayo Lues merupakan kabupaten yang relatif muda setelah pemekaran dari Aceh Tenggara. Banyak fondasi pemerintahan yang masih harus dibangun, mulai dari infrastruktur dasar hingga sistem birokrasi.
Selama sepuluh tahun masa kepemimpinannya, beberapa fokus pembangunan menjadi ciri kebijakan pemerintahannya.
Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur dasar, terutama pembukaan akses jalan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi. Pembangunan gedung pemerintahan juga menjadi prioritas untuk memperkuat pelayanan publik di kabupaten tersebut.
Di sektor ekonomi, ia mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah, terutama kopi Gayo dan nilam, yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedalaman.
Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan
Selain pembangunan fisik, Ibnu Hasim dikenal sebagai pemimpin yang cukup vokal dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di Gayo Lues.
Ia kerap hadir langsung dalam kegiatan pendidikan daerah, termasuk memimpin upacara Hari Pendidikan Daerah (Hardikda). Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, guru, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah pegunungan tersebut.
Baginya, pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Gayo Lues.
Menata Birokrasi dan Keuangan Daerah
Dengan latar belakang sebagai birokrat keuangan, Ibnu Hasim juga memberi perhatian khusus pada reformasi birokrasi dan tata kelola anggaran.
Selama masa pemerintahannya, upaya penataan sistem administrasi daerah dilakukan untuk meningkatkan transparansi serta efektivitas penggunaan APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten).
Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat fondasi pemerintahan daerah yang masih dalam tahap berkembang.
Politik Setelah Kursi Bupati
Setelah mengakhiri masa jabatan sebagai bupati pada 2017, Ibnu Hasim tidak sepenuhnya meninggalkan panggung politik daerah.
Ia tetap aktif dalam dunia politik melalui Partai Demokrat dan kemudian terpilih sebagai salah satu pimpinan DPRK Gayo Lues periode 2019-2024.
Karier politiknya berlanjut ketika ia kembali terpilih sebagai anggota DPRK Gayo Lues untuk periode 2024-2029.
Peran barunya di lembaga legislatif membuatnya tetap menjadi salah satu tokoh berpengaruh dalam dinamika politik dan pembangunan daerah.
Tokoh yang Tetap Terlibat
Di luar jabatan formal, Ibnu Hasim masih kerap terlihat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di Gayo Lues. Ia juga beberapa kali memberikan dukungan terhadap program pemerintah daerah, termasuk upaya peningkatan pelayanan publik.
Perhatian terhadap persoalan sosial. Seperti musibah kebakaran yang kerap melanda permukiman warga, juga menjadi bagian dari aktivitasnya setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala daerah.
Bagi sebagian masyarakat Gayo Lues, Ibnu Hasim bukan sekadar mantan bupati. Ia adalah bagian dari generasi awal pemimpin yang ikut membangun fondasi kabupaten itu sejak masa-masa awal berdirinya.
Dari Desa Terangun yang sunyi di pedalaman hingga ruang-ruang pengambilan keputusan di pusat pemerintahan kabupaten, perjalanan Ibnu Hasim menjadi cerita tentang bagaimana seorang anak desa menapaki jalan panjang menuju panggung kepemimpinan daerah.
Redaksi | insetgalusnews | Tulisan ini adalah kisah tentang perjalanan hidup seorang tokoh daerah. Sebagian dituturkan dengan gaya bercerita agar lebih hidup, sehingga pembaca mungkin akan menemukan kabut pagi, ayam kampung, dan imajinasi tentang desa yang terasa seperti adegan film. Namun tenang saja, yang berkabut hanya suasana ceritanya. Faktanya tetap berusaha seterang matahari di atas Bukit Barisan. Jika ada bagian yang terasa terlalu puitis, anggap saja itu cara wartawan memberi napas pada data yang biasanya kaku di atas kertas.


































