“Di negeri sunyi berselimut kabut, lahirlah bayang yang tak bertubuh-Baen Item disebut. Ia bukan sekadar bayang-bayang, tapi sahabat gaib yang menyatu dengan terang dan petang. Saat tubuh terpejam dalam gelap malam, dialah penjaga yang tak pernah karam. Berwujud tiga, berubah rupa, pendek menjulang, mengikuti sukma. Jika siang menghampar terang, ia menyelinap jadi bayang tenang. Namun, jangan sembarangan berdiri di atasnya, air najis bisa menjadi murka yang menyerang dalam lena.
“Jika ada yang dengki dan khianat terhadap diriku, rintak runtunkan di ujung kaki,” mantra bersatu. Ia tak dibuat untuk melukai, tapi menjaga raga dari niat yang menyesatkan hati. Dari Rum dan Sahmin ia berasal, menetap di Gunung Jenabun yang kekal. Di air jadi Sane, di rawa disebut Hantu, namanya menyesuaikan, tapi ruhnya tetap satu. Ia bukan kutukan, tapi cermin jiwa, refleksi gelap dalam cahaya yang kita punya. Baen Item-bayang satu jiwa, penjaga batin, sahabat dalam sunyi yang setia”
BUDAYA | insetgalusnews.com | Dalam khazanah sastra lisan masyarakat Gayo, selain kisah Ntube, Apah Onot dan kisah kisah mistis lainnya. Ada satu kisah yang dikenal sebagai sebuah entitas yang disebut Baen Item, sosok tak kasat mata yang dipercaya sebagai sahabat dalam keyakinan masyarakat Gayo yang disebut “sebet tungel”, ia berada dalam keheningan dan penjaga setia dalam sunyi dikegelapan malam.
Dalam satu hari, Baen Item bisa berubah wujud hingga tiga kali, kadang tampak pendek, kadang menjulang panjang, tergantung waktu dan kondisi batin pemiliknya.
Mengapa disebut sebet tungel? Karena ia hadir hanya untuk satu jiwa. Saat tubuh beristirahat, ia menjadi pelindung. Saat siang menjelang, ia menjelma bayangan yang mengikuti kita ke mana pun melangkah. Tapi keberadaannya lebih dari sekadar bayangan. Baen Item mampu memberi tanda atau isyarat dalam keadaan bawah sadar-mengingatkan, menegur, bahkan memperingatkan bahaya.
Menurut tokoh spiritual Gayo, Jack Gayo, ilmu ini memiliki pantangan keras. Salah satunya, tidak boleh terkena air kencing pada jari kaki dan bayangan, Jika dilanggar, Baen Item akan berbalik melukai pemiliknya dimalam hari, menyerang balik dalam bentuk cekikan saat tidur, dalam bahasa Gayo disebut mrulah. Terutama jika pemiliknya buang air kecil di siang bolong dalam posisi berdiri, tepat saat bayangannya berada di atas kepala. Itu dianggap pelanggaran berat terhadap harmoni antara tubuh dan bayangannya sendiri.
Sifat Baen Item unik, ketika manusia terjaga, ia beristirahat. Namun saat manusia lengah atau tidur, dialah yang berjaga. Segala perintah terhadap Baen Item dilakukan melalui rapalan khusus, semacam mantra yang menyatu dengan batin, “Jika ada yang dengki dan hianat terhadap diriku, rintak runtunkan di ujung kaki.” begitulah kira kira sedikit rapalan mantra untuk memanggil Baen Item.
Ilmu ini bukan untuk menyerang, melainkan menjaga. Ia adalah bentuk kebatinan yang menjadikan bayangan sebagai teman, bukan momok. Namun, kekuatan sebesar ini tak datang tanpa harga. Salah satu syarat utama, ilmu harus diputuskan dari tubuh sebelum kematian. Jika tidak, maka Baen Item bisa tersesat-menjadi beban ruh, menjadi pusaka yang menyesatkan keturunan.
Menurut tradisi lisan, Baen Item berasal dari sosok gaib keturunan Rum (sang nenek) dan Sahmin (sang bapak), diyakini mendiami Gunung Jenabun. Namun, nama dan bentuknya bisa berubah tergantung tempat. Di sungai ia disebut Sane, di rawa Hantu, di daratan Jin, dan dalam pribadi manusia, ia dikenal sebagai Si Item Bayang-bayang.
Di masa lalu, sebelum seseorang mengamalkan ilmu ini, harus dilakukan ritual sebagai syarat untuk menyatukan antara sosok gaib ini dengan seseorang, biasanya seekor ayam diputar lehernya hingga mati-bukan disembelih-lalu bangkainya dibuang melewati bubungan rumah sebagai bentuk penyerahan diri dan pemujaan terhadap energi ilmu. Ini bukan sembarang ritual, tapi upacara mistik yang menjadi batas antara dunia nyata dan dunia gaib.
Jika ilmu ini telah menyatu, si pemilik akan mampu merasakan kehadiran orang lain bahkan sebelum mereka datang. Ia membaca niat, bukan langkah, ia memahami energi, bukan kata.
Baen Item, si bayang-bayang tunggal, bukan hanya cermin dari tubuh kita-ia adalah refleksi dari ketenangan atau kekacauan batin kita sendiri.
Sebet tungel ini adalah sosok gaib yang tak kasat mata, dan diyakini mampu menjaga orang yang sedang tertidur lelap, dan ia juga yang menggerakkan kaki dan tangan orang yang memakainya, hingga terkadang tidak ada orang yang bisa menyentuhnya ketika ia tidur lelap.
Catatan Redaksi | insetgalusnews.com | Artikel ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan, Namun cerita ini menggambarkan sisi gelap kepercayaan masyarakat Gayo Lues pada masa lalu. Di tengah zaman modern dan generasi Z, cerita ini seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dimaknai sebagai dokumentasi budaya dan refleksi sastra lisan. Kisah Baen Item adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia berusaha menertibkan ketakutan dan mengatur kekuatan gaib melalui mitos dan simbol. Ia adalah bagian dari kekayaan kultural yang perlu dicatat, bukan dihapus.



































