Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Rabu, 30 Juli 2025 - 11:44 WIB

501,856 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bismillahi Rahmanirahim Abdul Karim mulai caritra, Museheded Tauhid, Museheded Rasul, Di dalam usul mulahir nyata.”

Adalah lantun awal yang mengalir lembut. “La hoya sare,” gema keyakinan, “La syarikallahu,” tiada sekutu Tuhan, Dalam irama, makna terajut pelan, Ketauhidan menari dalam keindahan.

Bukan hanya tangan yang bersatu, Tapi hati yang menyatu satu-satu, Gerak dan syair saling merangkul, Jika satu memanjang, yang lain menyusul

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

BUDAYA | insetgalusnews.com | Tari Saman bukan sekadar pertunjukan seni; ia adalah denyut spiritual yang tumbuh dari akar dakwah Islam di Tanoh Gayo. Asal-usulnya bermula dari metode pengajaran agama Islam yang dibawa oleh Teungku Syech Syaman, seorang ulama dari wilayah Pase.

Perjalanan dakwah beliau melintasi sejarah-dari Pase ke Perlak, lalu menuju Gayo Lukup, hingga akhirnya menyebar ke wilayah Gayo Deret, yang kini kita kenal sebagai Gayo Lues.

Dalam khazanah sastra lisan masyarakat Gayo, suku Gayo terbagi ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan wilayah geografis dan dialek mereka.

Gayo Deret, yang bermukim di wilayah Gayo Lues. Gayo Lut, yang menempati kawasan Takengon, Aceh Tengah,dan Gayo Lukup, yang berada di Serbejadi, Aceh Timur.

Pada awalnya, ajaran Islam diperkenalkan secara halus melalui pendekatan sufistik dan ilmu ketauhidan. Syair menjadi medium utama dalam menyampaikan ajaran ini. Dibacakan dalam bentuk naratif dan dinyanyikan dalam irama khas Gayo, syair-syair tersebut menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam bentuk estetika budaya.

Salah satu penggalan syair yang menggambarkan semangat awal dakwah tersebut berbunyi:

“Bismillah Abdul Karim mulai caritra, Museheded Tauhid, Museheded Rasul, Di dalam usul mulahir nyata” (red-Gayo).

Syair ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah tafsir lisan atas prinsip ketauhidan, yang menyatu dalam tubuh budaya Gayo. Dalam syair-syair itu pula kita menemukan istilah seperti “La hoya sare”, turunan dari ungkapan “La syarikallahu”, yang berarti “Tiada sekutu bagi-Nya”-menegaskan bahwa inti dari dakwah, sekaligus fondasi Tari Saman, adalah keesaan Tuhan.

Keindahan Tari Saman tidak hanya terletak pada kekompakan gerakan tangan dan tubuh, tetapi juga dalam kekuatan syair yang menyertainya. Salah satu yang paling dikenal berbunyi:

“Lagu e rantol redet e singket, singket redet e rantol lagu e” (red-Gayo).

Kalimat ini mencerminkan harmoni antara syair dan gerak. Jika syairnya panjang, maka gerakannya akan disingkat; sebaliknya, jika gerakannya panjang, syairnya dipadatkan. Ini bukan sekadar teknik, melainkan filosofi.

Ia melambangkan keseimbangan, kebijaksanaan, nilai-nilai religius, dan semangat kolektivitas yang hidup dalam jiwa masyarakat Gayo.

Tari Saman adalah warisan luhur yang lahir dari tanah spiritual, tumbuh dalam budaya lisan, dan hidup dalam setiap hentakan irama tubuh para penarinya. Ia adalah dakwah yang menari, ilmu yang bersyair, dan sejarah yang masih bergetar hingga hari ini.


Redaksi | insetgalusnews | Artikel ini masih banyak kekurangan dan perlu masukan dari berbagai pihak. Disusun untuk kepentingan dokumentasi budaya dan sejarah lisan masyarakat Gayo. Beberapa bagian memuat interpretasi naratif dari sumber tradisi lisan dan keyakinan kolektif masyarakat setempat. Tidak dimaksudkan sebagai dalil teologis atau klaim absolut sejarah, melainkan sebagai upaya pelestarian dan pemaknaan warisan budaya daerah.

Laillahaillallah hu Tiada Tuhan Selain Allah” lafal akhir dalam tarian saman.

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
“Nyarang!”
Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil
Ntube: Cerita rakyat Gayo Lues tentang Sosok Yang Bersahabat Dengan Dunia Gaib

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:42 WIB

Pesan dari Kalimantan Menggema hingga Jakarta, PW GP Al Washliyah DKI: Lagu ‘Teruslah Melangkah’ Mayjen TNI Krido Pramono Bangkitkan Semangat Generasi Muda Berkarya

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:54 WIB

Rencana Kenaikan Gaji TNI Wujud Penghargaan Presiden Prabowo atas Pengabdian Prajurit

Sabtu, 18 Juli 2026 - 00:07 WIB

Lapor Pak Ketua Komisi III DPR RI : Aksi Demo Minta Kapolrestabes Medan Tangkap Mamak Maling, Puluhan BH Dijemur

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:40 WIB

Bursa Capres 2029 : Prabowo, Samsuri, S.Pd.I, M.A dan Anies, 3 Nama Calon Kuat untuk Pilpres 2029

Sabtu, 11 Juli 2026 - 00:35 WIB

Apresiasi Langkah Nyata Menteri PU, PP GPA: Peresmian 5 Bendungan oleh Presiden Prabowo adalah Pondasi Emas Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:19 WIB

PW GP Al Washliyah DKI Jakarta Dukung Penuh Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Tata Kelola Batu Bara

Senin, 6 Juli 2026 - 14:10 WIB

Aksi Unjuk Rasa Mendesak Transparansi Pengadaan Rudal BrahMos dan Penguatan Pengawasan DPR

Kamis, 2 Juli 2026 - 11:52 WIB

Wujudkan Kota Bogor Aman, Ikatan Alumni dan Pelajar STM/SMK Sepakat Tolak Kekerasan

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan