Di negeri bernama Tanah Huruf, berdiri menara dari batu yang bisu-tempat anak-anak diajari menjawab bukan bertanya, menghafal huruf tanpa makna.
Pitur, sang bintang bersinar palsu, mendulang angka dari kata-kata yang tak pernah singgah di hatinya. Ia takut keliru, takut bersuara, hingga badai pun membongkar sunyinya.
Dinding runtuh, guru gemetar. Namun Pitur tak tahu cara membangun, karena tangannya hanya tahu menyalin. Hingga Lana datang, tanpa gelar, membawa hikmah dari sunyi hutan.
“Mulailah dari mendengar,” ujarnya lembut. “Karena belajar bukan untuk menang, tetapi untuk mengerti manusia.” Dan dari reruntuhan itulah, lahir tanya yang akhirnya bebas bernyanyi”.
BUDAYA | insetgalusnews.com | Di sebuah negeri bernama Tanah Huruf, berdirilah menara tinggi berlapis batu-batu buku. Di menara itu, anak-anak disusun dalam barisan. Pagi-siang-sore mereka mendengar, mencatat, dan menghafal. Sebuah ritual panjang yang disebut “pembelajaran” oleh para tetua yang menciptakannya.
Mereka percaya, nilai ujian adalah lambang keberhasilan, dan gelar adalah takhta kemuliaan. Dalam dunia itu, pertanyaan dianggap gangguan. Keraguan dianggap kelemahan. Anak-anak diajar bukan untuk berpikir, tapi untuk mengikuti. Bukan untuk memahami, tapi untuk mengulang.
Di antara mereka, lahirlah seorang murid unggul bernama Pitur. Ia cepat menangkap rumus, pandai mengutip definisi, dan selalu mendapat angka sembilan atau sepuluh. Namanya dielu-elukan. Ia disebut “Calon Pemimpin”, meski belum pernah bicara dari hatinya sendiri.
Namun ada yang Pitur sembunyikan, ia tak benar-benar mengerti dunia. Ia mengerti tabel periodik, tapi tak tahu mengapa langit menangis saat tanah tandus. Ia hafal Pancasila, tapi tak paham makna adil di tengah teman-temannya yang lapar. Ia tahu kapan revolusi industri terjadi, tapi tak tahu cara menyapa orang yang kesepian.
Suatu hari, badai menggulung Tanah Huruf. Menara pendidikan itu roboh. Para guru panik. Buku-buku berserakan. Para Tetua Ilmu lalu memanggil Pitur. “Kau yang paling pintar di antara kami,” kata mereka. “Pimpinlah membangun kembali!” Pitur berdiri. Matanya kosong. Tangannya gemetar. Ia tak tahu bagaimana membangun dunia. Ia tahu mengisi soal, bukan memikul tanggung jawab.
Dari kejauhan, datang seorang anak perempuan bernama Lana, yang tak pernah belajar di menara. Ia tumbuh bersama angin, sawah, dan kisah ibunya. Ia tak punya ijazah, tapi punya hati yang penuh keberanian dan empati. Lana memungut papan-papan berserakan. Ia menyusun tenda. Ia menenangkan anak-anak yang menangis. Ia memimpin tanpa angka, tanpa piagam. Pitur mendekat dan bertanya, “Bagaimana kau tahu semua ini?” Lana tersenyum, “Karena aku belajar dari hidup. Kau belajar untuk ujian. Kita beda dunia.”
Sejak hari itu, Pitur diam. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari jawaban, tapi mulai bertanya “Untuk siapa semua yang aku pelajari?”
Refleksi Redaksi
Dongeng ini adalah potret satir sekaligus cermin getir dari realitas pendidikan kita, terutama dinegara berkembang seperti Indonesia, di mana kejaran nilai dan prestise sering menyingkirkan esensi. Kita terkadang lupa, pendidikan sejatinya bukan untuk mencetak penghafal, melainkan membentuk manusia yang merdeka berpikir dan berbelas kasih.
Catatan Kaki (Sumber Kontekstual)
[^1]: Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. LP3ES. 2003. Buku ini menolak sistem “pendidikan deposisional”, di mana peserta didik dianggap wadah kosong untuk diisi, bukan subjek aktif dalam belajar.
[^2]: Tilaar, H.A.R. Manajemen Pendidikan Nasional. Rineka Cipta. 2002. Menekankan perlunya ruang reflektif dan dialog dalam sistem pendidikan nasional.
[^3]: UNICEF Indonesia. Education Equity Profile, 2022. Laporan ini menyoroti ketimpangan akses pendidikan di wilayah pedesaan dan dampaknya terhadap perkembangan karakter anak.
Redaksi | insetgalusnews.com | menyajikan karya ini sebagai bahan renungan bersama para pendidik, pengambil kebijakan, dan masyarakat luas, bahwa kita tidak sedang kekurangan anak pintar, tapi sering kekurangan anak yang berpikir dan merasa dari nuraninya.


































