“Nyarang!”

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Minggu, 2 November 2025 - 18:10 WIB

501,049 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar hanya ilustrasi | doc | insetgalusnews.com |

Gambar hanya ilustrasi | doc | insetgalusnews.com |

Tulisan ini tidak dibuat untuk menantang hujan ataupun memanggil petir. Bila setelah membaca ini Anda tiba-tiba mendengar guruh, itu bukan karena kami menulis nyarang, tapi karena langit memang sedang punya urusan sendiri. Kami hanya menulis, bukan meniup batok. Jadi, bila hujan datang, mohon jangan salahkan redaksi, salahkan cuaca yang tidak membaca tajuk ini.

BUDAYA | Insetgalusnews.com | Di Gayo Lues, ada kebiasaan lama yang masih hidup dalam bisik-bisik angin sebelum pesta digelar. Ketika langit mulai mendung dan awan bergulung di atas kampung, seseorang akan berkata pelan, “nyarang dulu, biar hujan jangan turun.”

Sebuah kalimat sederhana, tapi menyimpan jejak panjang kepercayaan yang sudah mengakar. “Nyarang!”sebuah tradisi menahan hujan, dilakukan bukan dengan teknologi cuaca, melainkan dengan doa, kemenyan, dan keyakinan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi ini lazim dilakukan ketika masyarakat hendak melaksanakan acara besar, seperti pernikahan atau kenduri. Pawang atau orang yang dianggap mampu “menahan hujan” akan memulai ritual dengan berbagai cara, seperti membakar kemenyan, membaca mantera, menelungkupkan batok kelapa yang telah dihembus asap dupa, atau menggunakan air yang telah “didoakan”.

Sebagian bahkan percaya, pawang nyarang berkomunikasi dengan makhluk halus atau “penunggu” yang menjaga wilayah tertentu.

Ritual nyarang menjadi simbol cara masyarakat Gayo berinteraksi dengan alam dan Sang Pencipta melalui jembatan budaya. Ia mencerminkan keinginan manusia untuk menjaga keseimbangan antara langit dan bumi, antara harapan dan ketakutan. Namun, di sisi lain, praktik ini juga menimbulkan perdebatan dari sudut pandang agama. Dalam ajaran Islam, ritual seperti ini sering dianggap menyimpang dari tauhid karena menyerahkan permohonan kepada selain Allah.

Perdebatan itu wajar. Sebab, budaya dan agama kerap bertemu di ruang yang sama, tapi tidak selalu berbicara dengan bahasa yang sama. Di satu sisi, nyarang adalah cermin tradisi leluhur yang menggambarkan kearifan lokal; di sisi lain, agama menuntun umatnya untuk menata keimanan agar tidak terjebak pada keyakinan yang keliru.

Di tengah arus modernisasi dan pendidikan keagamaan yang semakin kuat, tantangannya bukanlah meniadakan tradisi, tetapi menempatkannya pada posisi yang tepat. Budaya adalah warisan, sementara iman adalah pegangan. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dipahami dengan bijak.

Menolak hujan mungkin tidak lagi dilakukan dengan batok kelapa dan kemenyan. Tapi semangat untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam seharusnya tetap hidup. Hanya saja, kini dengan cara yang lebih selaras dengan tuntunan agama dan akal sehat.

Tradisi adalah bagian dari identitas. Namun setiap zaman berhak menafsirkan ulang warisan masa lalu agar tetap bermakna, tidak kehilangan akar, dan tidak pula menyesatkan keyakinan.


Disclaimer | insetgalusnews | Redaksi tidak bertanggung jawab jika setelah membaca tajuk ini acara hajatan Anda tetap kehujanan. Kami hanya menulis, bukan pawang hujan bersertifikat. Kalaupun hujan turun, anggap saja langit ikut menghadiri pesta Anda. Kalau malah cerah, siapa tahu tulisan ini juga punya sedikit “daya nyarang”. Yang jelas, jangan coba-coba meniup batok di ruang redaksi, kami sudah punya kipas angin sendiri.

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo
Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil
Ntube: Cerita rakyat Gayo Lues tentang Sosok Yang Bersahabat Dengan Dunia Gaib

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan