GAYO LUES | insetgalusnews.com | Pemerintah Kabupaten Gayo Lues didesak untuk mengkaji ulang data hasil gabah dan luasan lahan persawahan yang ada di wilayah tersebut.
Desakan ini muncul seiring kekhawatiran masyarakat terhadap keakuratan data yang disampaikan oleh kepala Dinas Pertanian yang mengatakan Gayo Lues surplus beras.
Pengusaha Kilang Padi UD Netral, Suhardinsyah, Minggu (8/6/2025) kepada kru-insetgalusnews.com, mengatakan bahwa validitas data sangat penting dalam menentukan kebijakan pertanian yang tepat.
Menurutnya, jika data yang disampaikan tidak akurat, maka akan menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat dan berpotensi menimbulkan ketidakadilan dalam penyaluran bantuan serta program pertanian lainnya.
“Biar jangan ada data yang tidak valid, supaya jangan ada pertanyaan yang ambigu dari masyarakat. Karena ketika instansi berwenang menyajikan data yang salah, akan berdampak langsung kepada hajat orang banyak,” ujar Suhardinsyah.
Berdasarkan analisis dan pengalamannya sebagai pengusaha kilang padi. Ia menjelaskan bahwa dalam satu hektare lahan sawah hanya mampu menghasilkan sekitar 2,9 ton gabah (catatan: satu hektare setara dengan enam kaleng bibit). Jika angka ini dikalikan dengan total luas lahan sebagaimana disebutkan oleh Kepala Dinas Pertanian, yakni 4.246 hektare, maka total produksi gabah yang dihasilkan adalah, 4.246 ha x 2,9 ton = 12.313,4 ton gabah.
Dari jumlah tersebut, jika dikonversikan menjadi beras, maka hasil akhirnya hanya sekitar 8.249 ton beras.
Contoh ujarnya, dari 11 kg gabah dengan kelembaban 20 (pengukur tester MMGM) apabila dikeringkan hingga mencapai kadar air 14%, akan diperoleh sekitar 9,8 kg gabah kering siap giling. Selanjutnya, dari 9,8 kg gabah kering tersebut, proses penggilingan akan menghasilkan sekitar 6,7 kg beras.
Sisa hasil penggilingan berupa limbah atau ampas terdiri dari, Sekam: 1,27 kg. Dedak: 1,75 kg. Bekatul: 0,08 kg. Itu dasar perhitungan kami sebagai pengusaha penggilingan padi, ujar Suhardin.
Oleh karena itu ia berharap Bupati Gayo Lues segera menginstruksikan Dinas Pertanian untuk mengevaluasi ulang hasil gabah yang dilaporkan, serta melakukan pemetaan wilayah persawahan secara komprehensif.
Langkah ini, lanjut Suhardinsyah, bertujuan untuk memastikan pendataan luasan lahan pertanian benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dapat lebih tepat sasaran dan berpihak pada petani.
“Ayo adu data, mana datamu ini dataku” tantangnya kepada Dinas Pertanian.
Namun sayang hingga berita ini dinaikkan kru-insetgalusnews.com belum mendapat jawaban resmi dari Dinas Pertanian.
Amatan insetgalusnews.com, sebagian besar pasokan beras ke Gayo Lues berasal dari daerah Bireuen. Hal ini disebabkan oleh harga beras diwilayah tersebut relatif lebih murah dibandingkan dengan harga beras lokal Gayo Lues. Pedagang dapat memperoleh beras dari Bireuen dengan harga berkisar antara Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, sementara harga beras lokal umumnya berada di atas Rp15.000 per kilogram.
Redaksi | insetgalusnews.com
Insetgalusnews.com akan terus menelusuri dan menyajikan perkembangan terbaru terkait dugaan rekayasa data ini.


































