Membaca Ulang Cerita Rakyat. Yang Disembunyikan Dibalik Senyum Kancil

INSET GALUS NEWS

- Redaksi

Senin, 14 Juli 2025 - 15:50 WIB

50802 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Esai Sastra | Ilustrasi | doc | insetgalusnews |

BUDAYA | insetgalusnews.com | Malam hari punya caranya sendiri untuk mendidik anak-anak. Di sana, di antara selimut yang membungkus tubuh kecil mereka, berbisik kisah-kisah yang diwariskan dari zaman ketika kata-kata masih lebih kuat daripada gambar. Dongeng, katanya. Tapi siapa yang benar-benar mendengar?

Kita begitu percaya pada kekuatan cerita, hingga kita lupa menyelami isi di dalamnya. Kita kira cerita selalu mendidik. Kita anggap dongeng sebagai tungku tempat nilai-nilai berkobar hangat. Tapi benarkah api itu menyala untuk menerangi, atau diam-diam membakar batas antara baik dan buruk?

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ambillah satu contoh yang akrab di lidah, Kancil dan Buaya. Si Kancil, pahlawan kecil yang cerdik, menipu kawanan buaya demi menyeberang sungai. Ia pura-pura hendak menghitung jumlah buaya, padahal hanya ingin menyelamatkan dirinya. Di tepian sungai imajinasi anak-anak, tumbuh anggapan bahwa kebohongan itu sah-asal cerdik. Tipu muslihat disulap menjadi kecerdasan, dan kita pun bertepuk tangan tanpa sempat bertanya “apa yang sedang kita tanamkan di benak anak-anak itu?”

Lalu ada Timun Mas, kisah tentang janji dan pelanggaran yang dibungkus dalam aroma ketegangan. Seorang ibu membuat perjanjian dengan makhluk raksasa, Buto Ijo, untuk memperoleh anak. Tapi ketika hari pemenuhan janji datang, ia memilih ingkar.

Buto Ijo tidak mencuri. Ia hanya datang untuk menagih hak yang dijanjikan. Namun cerita membuatnya tampak jahat, dan pembunuhannya dipandang sebagai kemenangan. Kita bersorak atas kebebasan Timun Mas, tapi melupakan satu hal “janji telah dikhianati”, dan pengkhianatan itu dibenarkan demi “kebaikan”¹.
Apakah ini cara kita menanam kejujuran? Apakah dengan cerita seperti itu, kita mengajarkan bahwa kebaikan bisa lahir dari pengingkaran?

Dongeng, tampaknya, bukan sekadar kisah pengantar tidur. Ia adalah ruang pembentukan nurani, tempat di mana anak-anak belajar merangkai dunia. Tapi dunia seperti apa yang kita bentuk bila nilai-nilainya remang-remang? Bila kejujuran dikalahkan oleh licik, bila kesetiaan pada janji dianggap lugu?

Sebagian mungkin akan berkata “dongeng hanyalah fiksi, jangan dibawa terlalu serius”. Tapi tidakkah fiksi adalah jalan masuk ke dalam kesadaran terdalam? Bukankah banyak dari kita mengenang nilai hidup pertama justru dari kisah-kisah yang diceritakan sebelum kita bisa membaca?

Sastra rakyat memang tumbuh dalam konteks zamannya. Ia adalah refleksi dari harapan, ketakutan, dan struktur sosial masyarakatnya². Tapi zaman berubah. Dan kita, yang kini menjadi penyampai narasi itu, punya hak sekaligus tanggung jawab untuk menyaringnya.

Kita tidak sedang menyerukan pembakaran buku cerita. Kita hanya ingin menyulam ulang benang-benang lama dengan cahaya pemahaman baru. Kita ingin dongeng yang tidak hanya mempesona, tapi juga membimbing “kisah yang mendidik tanpa mengorbankan etika, yang menghibur tanpa membingungkan logika moral anak-anak kita”.

Maka mari mulai dari yang paling sederhana “temani anak membaca”. Jangan biarkan mereka berjalan sendiri di lorong narasi yang samar. Buka ruang tanya, buka ruang rasa. Siapa tahu, dari sana lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga utuh secara batin³.
Lalu, mari ajak para pendongeng, penulis, dan seniman untuk menciptakan kisah baru. Atau memperbaharui kisah lama. Cerita di mana kecerdikan bukan tipuan, keberanian bukan pelanggaran, dan kebaikan tidak berdiri di atas pengkhianatan.

Karena pada akhirnya, karakter bukan dibentuk oleh perintah, tetapi oleh cerita. Dan jika kita ingin melahirkan manusia-manusia besar, kita harus mulai dari dongeng kecil.
Sebab dalam cerita yang sunyi itu, bersemayam masa depan.


Catatan Esai:
1. Simanjuntak, D. (2018). Simbol dan Makna dalam Cerita Rakyat Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Penulis membongkar lapisan makna dalam cerita Timun Mas, termasuk soal pengingkaran perjanjian dan demonisasi tokoh Buto Ijo.
2. Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Dalam buku ini, dongeng dijelaskan sebagai refleksi kompleks nilai sosial dan struktur budaya tradisional.
3. Purnamasari, R. (2021). “Peran Diskusi Kritis dalam Membentuk Etika Anak di Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 11, No. 2.


 

Berita Terkait

“Gegurun” Saat Ruh Turun dan Tubuh Jadi Kuat
“Nyarang!”
Selsung: Salam Sakral di Tengah Rimba Gayo
Syair, Gerak, dan Tauhid: Menelusuri Akar Sufi Tari Saman
BAEN ITEM: Penjaga Bayangan Jiwa Dari Gayo
APAH ONOT: Makhluk Jelmaan
Kisah Menyentuh dari Tanah Huruf: Antara Gelar dan Makna
Ntube: Cerita rakyat Gayo Lues tentang Sosok Yang Bersahabat Dengan Dunia Gaib

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 23:34 WIB

Tokoh Alumni Pelajar Tangerang Raya Serukan Tolak Narkoba dan Tawuran

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:09 WIB

Tingkatkan Pelayanan Prima, Lapas Narkotika Langkat Bagikan Perlengkapan Harian WBP dan Nutrisi Lansia

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:54 WIB

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:27 WIB

4 Siswa SMA Plus Riau Raih Prestasi di Duta Pariwisata Remaja EKRAF 2026, Harumkan Nama Sekolah

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:31 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP

Sabtu, 11 Juli 2026 - 23:33 WIB

Jaga Habitat Gajah Sumatera, Polda Riau Siap Kawal Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:15 WIB

PKL gunakan Mobil Pick Up di Trotoar Jalan Subrantas Panam Penyebab Macet dan Kecelakaan, Warga Minta Satpol PP Kota Pekanbaru Menertibkannya

Jumat, 10 Juli 2026 - 18:27 WIB

Wujud Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat, Lapas Binjai Gelar Kegiatan Jumat Berkah

Berita Terbaru

error: Maaf, konten ini dilindungi. silakan hubungi redaksi jika membutuhkan kutipan