TAJUK RENCANA | insetgalusnews.com | Kabupaten yang dikenal subur dan hijau, dikenal pula sebagai salah satu daerah penghasil padi di Aceh. Bahkan data menunjukkan bahwa produksi padi di Gayo Lues tergolong surplus. Namun, ada sebuah ironi yang mencolok, masyarakat justru mengalami kekurangan beras, bahkan sebagian pasokan beras untuk konsumsi lokal harus didatangkan dari luar daerah.
Data dari Badan Pusat Statistik 2023 menunjukkan bahwa prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di kabupaten ini mencapai 9,18%, atau lebih tinggi dari rata-rata nasional, yaitu 8,53% . Ini jelas mencerminkan bahwa surplus produksi belum menjamin ketersediaan pangan secara merata.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Masalahnya terletak pada rantai pasca-panen. Banyak petani di Gayo Lues lebih memilih menjual gabah mentah ke luar daerah sesaat setelah panen. Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, menjual gabah ke pengumpul adalah pilihan paling cepat untuk mendapatkan uang tunai guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara itu, tidak tersedia cukup fasilitas atau sistem lokal yang memungkinkan petani untuk menggiling gabah menjadi beras, menyimpan hasil panen, atau bahkan menahannya agar bisa dijual dengan harga lebih baik di kemudian hari.
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam, petani kita hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Harga gabah yang rendah, tidak adanya jaminan pasar, serta minimnya akses ke modal dan teknologi, membuat mereka sulit keluar dari lingkaran setoran gabah ke luar daerah. Ketika gabah keluar, yang tersisa di daerah adalah kekosongan beras. Ironis, bukan?
Dalam konteks ini, peran Dinas Pertanian menjadi sangat krusial. Tidak cukup hanya fokus pada peningkatan produksi, dinas harus mampu menjadi fasilitator perubahan dalam sistem pertanian secara keseluruhan. Mulai dari membangun dan mengelola fasilitas penggilingan dan penyimpanan gabah, hingga mendorong pembentukan koperasi tani yang kuat. Selain itu, Dinas juga bisa memperjuangkan skema jaminan harga gabah lokal agar petani tidak tergantung pada permainan pasar luar.
Tidak kalah penting adalah pendampingan berkelanjutan kepada petani untuk mengelola hasil panen secara efisien, serta mengembangkan usaha tani terpadu agar mereka tidak hanya mengandalkan panen padi sebagai satu-satunya sumber pendapatan.
Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian harus sadar bahwa pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi soal keadilan ekonomi dan keberlanjutan hidup petani. Jika petani terus hidup dalam tekanan ekonomi, maka surplus produksi pun tidak akan mampu mengamankan kebutuhan pangan kita sendiri.
Sudah saatnya Dinas Pertanian menata ulang pendekatan pembangunan pertanian di Gayo Lues. Tidak cukup hanya mengejar angka-angka produksi, Dinas Pertanian sebagai ujung tombak pemerintah daerah harus mampu membangun sistem yang adil, terintegrasi, dan memberdayakan petani sebagai pelaku utama. Hanya dengan itu, Gayo Lues bisa lepas dari ironi surplus padi namun defisit beras.
Redaksi | insetgalusnews.com |
Tajuk Rencana insetgalusnews.com memberikan informasi secara akurat berdasarkan apa yang saat ini sedang mencuat di Kabupaten Gayo Lues, untuk dibaca oleh seluruh masyarakat Indonesia guna menambah wawasan dan pengetahuan sebagai kontrol sosial, serta memberikan hak jawab terhadap instansi/perorangan/maupun lembaga yang dicantumkan oleh redaksi.


































