Opini | insetgalusnews.com | Setiap hari, kita disuguhi berita tentang korupsi, kecurangan, manipulasi, praktik culas hingga pelanggaran etika di lembaga-lembaga publik. Ironisnya, sebagian besar pelaku adalah orang-orang berpendidikan bahkan banyak yang lahir dari sistem pendidikan yang katanya menanamkan nilai moral dan budi pekerti.
Pertanyaan pun mengemuka, mengapa begitu banyak orang pintar tapi tidak jujur? Apakah ada yang keliru dalam proses pembentukan karakter sejak dini?
Mungkin salah satu faktor yang kerap diabaikan dalam pendidikan karakter adalah narasi atau cerita yang dikonsumsi anak-anak. Dongeng, sebagai bagian dari budaya tutur kita, sering dianggap sebagai sarana ampuh untuk menanamkan nilai-nilai moral. Namun, jika ditelaah lebih kritis, banyak dongeng yang justru memuat pesan ambigu atau bahkan kontraproduktif terhadap pembentukan etika.
Ambil contoh cerita Kancil dan Buaya. Dalam dongeng ini, si Kancil digambarkan sebagai tokoh cerdik yang berhasil menipu kawanan buaya agar bisa menyeberang sungai. Ia berpura-pura hendak menghitung jumlah buaya demi membawa teman-temannya, padahal hanya ingin menipu agar bisa lewat. Anak-anak diajarkan bahwa tipu daya bisa dibenarkan atas nama kecerdikan. Tanpa sadar, kita membentuk persepsi bahwa kebohongan adalah bagian dari kepintaran.
Contoh lain adalah Timun Mas. Kisah ini mengisahkan seorang anak yang dikejar Buto Ijo, makhluk raksasa yang digambarkan menyeramkan dan jahat. Namun jika kita telusuri, Buto Ijo sebenarnya hanya datang untuk menagih janji. Ia tidak menipu, tidak memaksa, ia hanya meminta ibu Timun Mas memenuhi kesepakatan, menyerahkan anak yang telah dijanjikan ketika usia cukup. Namun, cerita berakhir dengan Buto Ijo dibunuh secara keji. Dalam narasi ini, pelanggaran janji seolah dimaklumi jika itu demi “kebaikan”.
Kedua dongeng tersebut hanyalah sedikit dari banyak cerita yang secara tak sadar menanamkan logika moral yang keliru. Kita menyodorkan kepada anak-anak bahwa manipulasi itu cerdas, dan bahwa pelanggaran janji bisa dibenarkan asalkan untuk tujuan yang dianggap baik. Bukankah ini bentuk awal dari permisivisme moral?
Tentu, kita tidak bisa menyalahkan dongeng secara mutlak. Cerita rakyat adalah bagian dari warisan budaya yang tumbuh dalam konteks sosialnya masing-masing. Namun sebagai orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan, kita perlu lebih cermat dalam menyaring dan menyampaikan cerita-cerita tersebut.
Sudah saatnya kita meninjau ulang narasi yang diwariskan kepada anak-anak. Kita perlu memilih cerita yang tidak hanya menarik dan imajinatif, tetapi juga membentuk landasan etika yang kuat: kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan empati.
Beberapa langkah konkret bisa dilakukan. Pertama, mendampingi anak dalam memahami makna cerita. Jangan biarkan anak menelan bulat-bulat narasi yang ambigu; ajak mereka berdiskusi tentang benar-salah dan sebab-akibat. Kedua, ciptakan atau adaptasi ulang dongeng dengan sudut pandang moral yang lebih berimbang dan membangun. Ketiga, libatkan para penulis, pendongeng, dan kreator konten anak untuk menghasilkan cerita-cerita baru yang relevan dengan tantangan moral hari ini.
Karakter tidak dibentuk dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari lingkungan, teladan, dan narasi yang diulang setiap hari. Jika kita ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, maka kita harus mulai dari cerita yang mereka dengar sebelum tidur.
Karena dari cerita kecil, lahirlah karakter besar.
Redaksi | insetgalusnews.com
Narasi ini terinspirasi dari akun JS88


































